Sabtu, 13 Juni 2026

Local Media Community 2025: Jurnalisme Konstruktif, Solusi Berita Negatif yang Membuat Lelah Pembaca

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Rabu, 5 Februari 2025 | 10:33 WIB
Local Media Community 2025: Jurnalisme Konstruktif, Solusi Berita Negatif yang Membuat Lelah Pembaca. (KlikSoloNews/Kevin Rama)
Local Media Community 2025: Jurnalisme Konstruktif, Solusi Berita Negatif yang Membuat Lelah Pembaca. (KlikSoloNews/Kevin Rama)

SURABAYA, KLIKSOLONEWS.COM - Jurnalisme konstruktif kini semakin digemari sebagai gaya baru dalam menyajikan berita yang lebih berbobot.

Dalam pendekatan ini, pembaca tidak hanya dihadapkan pada berita dengan sisi negatif, tetapi juga diberikan solusi terkait masalah yang diangkat. Pendekatan ini hadir sebagai jawaban atas kejenuhan pembaca yang kerap disuguhkan dengan kabar negatif tanpa solusi.

Eva Danayanti, Program Manager at International Media Support (IMS), menjelaskan jurnalisme konstruktif bukanlah sekadar genre baru dalam dunia jurnalistik, melainkan sebuah pendekatan editorial yang dapat mengurangi sisi negatif dari suatu berita.

"IMS mengadopsi jurnalisme konstruktif yang pertama kali muncul di Denmark," ujar Eva dalam diskusi bertajuk Local Media Community 2025 yang digelar di Surabaya pada 4-5 Februari 2025.

Konsep jurnalisme konstruktif ini berawal dari keresahan para jurnalis yang merasa bahwa pemberitaan cenderung menekankan hal-hal negatif, seperti skandal dan sensasi, yang justru mengundang kebosanan bagi audiens.

Eva menyebutkan sebuah survei mengungkapkan 39 persen orang menghindari berita sama sekali karena mereka merasa terlalu banyak berita yang menekankan masalah tanpa ada solusi yang jelas.

Jurnalisme konstruktif pun hadir sebagai solusi untuk mengatasi kejenuhan tersebut. "Jurnalisme konstruktif bisa mengurangi efek negatif dari berita dengan menyajikan sisi solusi," kata Eva.

Ada tiga elemen utama yang menjadi prinsip dalam jurnalisme konstruktif: solusi, nuansa, dan percakapan demokratis.

Menurut Eva, nuansa di sini tidak hanya berarti latar belakang masalah, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan solusi yang relevan dengan konteks masalah tersebut.

Solusi yang dimaksud bukanlah solusi yang dibuat oleh jurnalis atau media, tetapi solusi yang ditemukan melalui proses keterlibatan publik.

"Media memiliki tanggung jawab tidak hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga memfasilitasi keterlibatan publik dalam mencari solusi terhadap masalah yang ada," jelas Eva.

Percakapan demokratis menjadi elemen penting karena melibatkan masyarakat dalam menemukan solusi bersama.

Dalam proses penyusunan berita dengan jurnalisme konstruktif, selain menerapkan prinsip 5W+1H, jurnalis juga dituntut untuk bertanya 'apa' dan 'bagaimana'.

Eva menambahkan dalam wawancara, pendekatan yang digunakan tidak lagi berfokus pada tuduhan, tetapi beralih menjadi pendekatan yang lebih penasaran dan terbuka.

"Gaya jurnalismenya pun bergeser dari yang sebelumnya dramatis dan kritis menjadi lebih penasaran dan terbuka," jelasnya.

Jurnalisme konstruktif ini dapat menjadi jembatan bagi komunikasi antara jurnalis dan audiens untuk bersama-sama mencari solusi atas masalah yang ada, sembari menyebarkan informasi yang berguna dan konstruktif.

Dengan pendekatan ini, diharapkan media dapat menjadi agen perubahan yang tidak hanya menyampaikan masalah, tetapi juga memberikan kontribusi positif dalam penyelesaian isu-isu penting yang dihadapi masyarakat.

Ke depan, jurnalisme konstruktif diharapkan bisa lebih banyak diterapkan oleh media, agar mereka bisa berperan lebih dalam meningkatkan kualitas informasi dan menciptakan ruang diskusi yang produktif di masyarakat.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X