JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM - Patrick Kluivert, nama besar dalam dunia sepak bola sebagai mantan striker legendaris Belanda, kini menjadi sorotan terkait rekam jejaknya sebagai pelatih.
Setelah resmi meninggalkan karier bermain, perjalanan kepelatihan Kluivert tidak selalu berjalan mulus.
Berikut adalah catatan statistik dan kontroversi yang pernah membayangi karier Patrick Kluivert hingga terjerat masalah utang judi sebesar Rp16 miliar:
Perjalanan Karier Kepelatihan
- Timnas Kamerun (Asisten Pelatih, 2018) Kluivert menjabat sebagai asisten pelatih di Timnas Kamerun, posisi yang lebih banyak berada di balik layar tanpa banyak sorotan hasil signifikan.
- Manajer Akademi Barcelona (2019) Pada Juli 2019, Kluivert ditunjuk sebagai manajer akademi Barcelona. Namun, masa jabatannya lebih terfokus pada pengembangan pemain muda tanpa hasil yang mencolok di tingkat kompetitif.
- Pelatih Utama Timnas Curaçao (2021) Pada 14 Mei 2021, Kluivert menjadi pelatih kepala Timnas Curaçao. Namun, perjalanan singkat ini penuh dengan hasil buruk:
- 6 pertandingan: 1 kemenangan, 2 imbang, 3 kekalahan.
- Kinerja ini membuatnya dipecat pada Oktober 2021, hanya lima bulan setelah pengangkatannya.
- Pelatih Adana Demirspor (2023) Kluivert mengambil alih klub Turki, Adana Demirspor, pada Juli 2023. Namun, hasilnya kembali mengecewakan:
- 20 pertandingan: 8 kemenangan.
- Kinerja yang dianggap tidak memuaskan membuat kontraknya tidak diperpanjang setelah Desember 2023.
Sejak 2023, setelah meninggalkan Adana Demirspor, Kluivert belum melatih tim nasional atau klub mana pun, menjadikannya "pengangguran" hingga awal 2025.
Terjerat Judi Rp16 Miliar
Selain hasil buruk dalam kepelatihan, Kluivert juga diterpa kabar miring pada 2017. Laporan dari Bleacher Report menyebutkan Kluivert memiliki utang judi sebesar 1 juta euro atau sekitar Rp16 miliar kepada kelompok kriminal. Ia dikabarkan menjadi korban pemerasan selama bertahun-tahun akibat utang tersebut.
Melihat statistik dan catatan Kluivert, muncul pertanyaan penting: Apakah ia benar-benar lebih layak dibandingkan Shin Tae-yong dalam memimpin Timnas Indonesia?
Shin Tae-yong, meskipun menghadapi kritik di akhir masa jabatannya, membawa sejumlah pencapaian positif seperti lolos ke Piala Asia dan mengembangkan bakat muda di skuad Garuda.
Dengan rekam jejak Patrick Kluivert yang penuh pasang surut, pengangkatan dirinya sebagai pelatih Timnas Indonesia menjadi langkah yang berisiko.
Publik sepak bola Indonesia kini menantikan jawaban dari pertanyaan besar ini: Bisakah nama besar Kluivert di lapangan hijau diterjemahkan menjadi sukses di kursi kepelatihan? Ataukah ini menjadi keputusan yang akan membawa penyesalan bagi PSSI? (KS01)