WONOGIRI, KLIKSOLONEWS.COM - Sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Gita Pertiwi telah berhasil mentransformasi cara petani lokal mengolah hasil tani empon-empon.
Program pendampingan ini fokus pada pengolahan empon-empon menjadi produk minuman olahan, memberikan nilai tambah signifikan bagi para petani.
Pengolahan empon empon menjadi minuman bertujuan untuk memanfaatkan empon empon yang tidak layak jual dan selama ini bila dijual dihargai sangat rendah bahkan bila produk berlimpah cenderung dibuang.
Dengan pengolahan ini, maka akan mengurangi terjadinya susut pangan/food loss di paska panen pertanian.
Gita Pertiwi berhasil memberdayakan masyarakat terutama ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dusun Bonagung, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri.
Dengan kondisi lahan yang berupa lereng, Kabupaten Wonogiri memiliki potensi produksi empon-empon yang tinggi.
Pada tahun 2022 produksi empon-empon di Wonogiri lebih dari 14 ribu ton. Produksi komoditas tanaman biofarmaka yang mendominasi Kabupaten Wonogiri tahun 2022 adalah kunyit diikuti dengan jahe, laos/lengkuas, kencur, dan temulawak.
Dari tahun 2021, produksi tanaman empon-empon di Kabupaten Wonogiri cenderung mengalami kenaikan.
Salah satu wilayah yang menyumbang produksi empon-empon adalah Kecamatan Tirtomoyo. Dalam beberapa komoditas seperti kunyit, jahe, kencur, temulawak, dan kapulogo, Kecamatan Tirtomoyo menjadi salah satu daerah penghasil empon-empon yang besar.
Dusun Bonagung yang menjadi pemasok komoditas empon-empon di Kecamatan Tirtomoyo. Dengan potensi produksi empon-empon 2 ton perbulan tersebut Gita Pertiwi memberikan nilai tambah dengan membuat produk olahan sehat.
Program dilakukan dengan mendampingi masyarakat terutama KWT Bonagung dalam teknik pengolahan empon-empon menjadi produk minuman yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dalam mengembangkan daya saing potensi lokal partisipasi ibu-ibu melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) olahan empon-empon yang memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi keluarga.
Empon-empon yang mencakup berbagai jenis rempah seperti jahe, kunyit, dan temulawak, kini tidak hanya dijual dalam bentuk mentah. Melalui proses pengolahan yang diajarkan Gita Pertiwi, bahan-bahan tersebut diubah menjadi minuman sehat yang bernilai ekonomi tinggi.
Prihatin menjelaskan dari olahan tersebut dia berhasil memberikan nilai tambah dengan menjual 15 kg olahan empon-empon yang dihargai 70 ribu per kilogramnya.
Berbeda dengan sebelum adanya pelatihan yang dijual mentah, karena per kilogramnya hanya berkisar 5-14 ribu per kilo itupun naik turun dan 2 tahun sekali penjualannya.
Prihatin, salah satu masyarakat sasaran membagikan pengalamannya dalam mempraktikan hasil pelatihan yang diberikan.
-
"Berkat pelatihan yang diberikan Gita Pertiwi, saya kini bisa mengolah empon-empon menjadi minuman. Kegiatan ini telah berlangsung hingga sekarang dan membuat saya rutin mendapatkan pesanan, jadi saya lebih suka kalua diolah karena ada nilai tambahnya dari keuntungan," kata Prihatin.
Kesuksesan program ini terlihat dari kemampuan Prihatin yang konsisten memproduksi dan memasarkan produknya.
Produk JKT
Setiap hari, Prihatin memproduksi empon-empon dan dijual kepada tetangga dan keliling dusun. Selain itu Prihatin juga kerap mendapatkan pesanan dari kerabatnya yang berada luar kota.
"Saya tidak hanya menjual keliling dusun saja, tapi juga ke pasar Sukoharjo setiap hari dan terkadang mendapatkan pesanan dari kerabat diluar kota sehingga Ini membuka peluang ekonomi baru bagi saya." Jelasnya.
Prihatin juga menjelaskan, dirinya bisa memperoleh pendapatan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta perbulan hanya dari menjual produk olahan dari empon-empon. Produk yang diolah Prihatin dilabeli dengan nama JKT.
Produk JKT milik Prihatin ini mengandung empon-empon dari jahe, kunyit, dan temulawak. Selain itu, ada produk lain juga seperti jahe bubuk yang dapat dikonsumsi dengan mudah, cukup seduh dengan air panas.
Program pendampingan Gita Pertiwi telah membuktikan bahwa dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, hasil pertanian lokal dapat ditingkatkan nilainya secara signifikan.
Selain meningkatkan pendapatan petani, kegiatan ini juga turut mempromosikan produk lokal yang sehat dan alami kepada masyarakat luas. Selain itu, hasil penjualan yang didapatkan lebih berkelanjutan dengan adanya kepastian harga pasar dari produk olahan empon-empon.
Sebagai upaya mengembangkan produk lokal unggulan dapat dilakukan peningkatan produksi olahan minuman dari empon-empon.
Tidak kalah penting adanya upaya pemasaran digital perlu dilakukan sebagai promosi produk olahan minuman tersebut. Selain itu, sertifikasi seperti PIRT, Halal, dan BPOM harus diperoleh untuk memastikan kualitas dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan dengan pemanfaatan potensi lokal.
Gita Pertiwi telah menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat memberdayakan masyarakat untuk lebih kreatif dalam mengolah potensi lokal, menciptakan produk bernilai ekonomi tinggi, dan pada akhirnya meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. (Alfian Khamal/KS01)