Jumat, 12 Juni 2026

LUAR BIASA! Best Practice Pertanian Regeneratif, Petani di Kemudo Klaten Raup Untung hingga Belasan Juta Rupiah

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 31 Mei 2024 | 17:34 WIB
LUAR BIASA! Best Practice Pertanian Regeneratif, Petani di Kemudo Klaten Raup Untung hingga Belasan Juta Rupiah. (KlikSoloNews/dok Alfian Khamal Mustafa)
LUAR BIASA! Best Practice Pertanian Regeneratif, Petani di Kemudo Klaten Raup Untung hingga Belasan Juta Rupiah. (KlikSoloNews/dok Alfian Khamal Mustafa)

KLATEN, KLIKSOLONEWS.COM  – Petani di Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten raup untung hingga jutaan rupiah.

Direktur Program Budidaya Tanaman Sehat (BTS), Gita Pertiwi mengenalkan dan mendampingi petani dengan sistem budidaya tanaman cabai sehat kepada petani.

Budidaya tanaman sehat ini merupakan salah satu daya tarik terhadap komoditas pertanian dengan mengurangi penggunaan bahan kimia di kebun.

Petani diberikan pembinaan dalam memanfaatkan sumber daya alam sekitar baik untuk memupuk, pencegahan dan penaggulangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Pertanian regeneratif di kemudo sudah dilakukan sebelum ada pendampingan dari Gita Pertiwi, para petani memanfaatkan potensi yang ada yaitu kotoran hewan dan arang sekam sebagai pupuk di lahan pertaniannya.

Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti menjelaskan, budidaya cabai sehat ini meminimalisasi penggunaan bahan kimia dan mengganti dengan bahan yang lebih ramah lingkungan.

"Hal tersebut untuk mendukung program Budidaya Tanaman Sehat Kementerian Pertanian Indonesia," terang Titik dalam keterangan resmi diterima KlikSolo, Jumat 31 Mei 2024.

Dilansir dari Kementerian Pertanian bahwa tanaman tidak dapat menyerap 100% pupuk kimia dan beresiko menghasilkan residu logam berat pada tanaman dan tanah.

Sehingga penggunaan bahan kimia memang harus segera dikurangi. Tidak hanya dapat mengganggu lingkungan di sekitaran kebun, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan tubuh.

Budidaya cabai sehat petani di Kemudo ini menggunakan salah satu prinsip pengendalian hama terpadu dan memadukan seluruh teknik budidaya yang ramah lingkungan dalam budidaya tanaman sehingga menghasilkan tanaman yang sehat, lingkungan lestari, dan produk yang aman untuk konsumsi.

Budidaya sehat yang dilakukan petani ini sudah dilakukan sejak 2022 dimulai dari pendampingan yang dilakukan Gita Pertiwi agar petani paling tidak dapat merubah kebiasaan yang sebelumnya bergantung pada bahan kimia ke bahan organik. Salah satunya pada sistem budidaya cabai kelompok disana.

“Pertanian regeneratif perlu dikenalkan kepada petani. Selain karena kondisi tanah yang sudah rusak karena terlalu banyak residu dari pupuk kimia, pertanian regeneratif juga dapat menjadi solusi langkanya pupuk kimia serta menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan aman dari pestisida kimia,” jelas Dita fasilitator kelompok dari Gita Pertiwi.

Proses memang tidak pernah mengkhianati hasil seperti yang dirasakan petani cabai menghasilkan produksi yang terbilang tinggi sebanyak cabai keriting merah 563,8 kg, cabai keriting hijau 1,3 kg, dan cabai rawit 486,9 kg.

Dari hasil produksi tersebut cabai rawit dapat terjual dengan harga tertinggi 65 ribu per kg dengan total pendapatan petani hingga Rp54 juta.

“Cabai ini hanya dipupuk sebanyak 4 kali dengan pupuk kimia sebanyak 60kg, tapi hasilnya bagus sekali. Kita menggunakan pupuk organik yang kita buat sendiri seperti POC, asam amino dari lele dan Jakaba. Biaya pemupukan lebih sedikit tapi hasilnya sangat memuaskan,” ungkap Samsuri seorang petani yang ikut mengelola lahan demplot cabai.

-


Tidak hanya itu Gita Pertiwi juga melakukan pendampingan serta beragam pelatihan pembuatan bahan organik untuk support budidaya tanaman sehat.

Dengan begitu pengeluaran sarana produksi budidaya cabai dapat ditekan lebih sedikit. Hingga petani saat ini sudah sadar untuk mengurangi pupuk kimia dan beralih ke pupuk organic karena mudah ditemukan di sekitar.

“Yang menarik adalah petani sudah sadar akan kondisi tanahnya yang rusak bila terus menerus menggunakan pupuk kimia kemudian mereka memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di sekitarnya seperti kotoran hewan dan abu sekam untuk memperbaiki kondisi tanahnya dan mengurangi penggunaan pupuk kimia,” ujar Dita.

Hingga saat ini Gita Pertiwi dan petani champion di Kemudo terus menjalin kebersamaan dalam penerapan budidaya tanaman sehat. Selain menguntungkan secara ekonomi sistem ini lebih ramah lingkungan dan meningkatkan pengetahuan kepada petani. (Alfian Khamal Mustafa/KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X