Sementara itu, mesin jam yang digunakan didatangkan langsung dari Jerman dan dibuat oleh perusahaan Bernard Vortmann di Recklinghausen.
Keunikan lain yang masih dapat dilihat hingga sekarang adalah penggunaan angka Romawi "IIII" sebagai penunjuk angka empat, berbeda dari penulisan umum "IV". Ciri khas ini menjadi salah satu daya tarik yang sering menarik perhatian wisatawan.
Tidak banyak bangunan bersejarah di Indonesia yang mengalami perubahan bentuk mengikuti pergantian kekuasaan seperti Jam Gadang.
Saat pertama kali dibangun pada era Belanda, bagian puncak menara menggunakan kubah bergaya Eropa.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, bentuk atap diubah menyerupai pagoda sebagai simbol kekuasaan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang kembali mengalami perubahan. Kali ini bentuknya disesuaikan dengan arsitektur tradisional Minangkabau berupa gonjong Rumah Gadang yang masih bertahan hingga sekarang.
Perubahan tersebut menjadikan Jam Gadang sebagai simbol perjalanan sejarah sekaligus representasi identitas budaya masyarakat Minangkabau.
Menjadi Saksi Perjalanan Bangsa Indonesia
Selama satu abad berdiri, Jam Gadang menyaksikan berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan Kota Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan perdagangan di Sumatera Barat.
Baca Juga: Mengenal Kyoto: Kota Seribu Kuil dan Warisan Abadi Jepang
Bukittinggi bahkan pernah menjadi ibu kota darurat Republik Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan. Dalam periode tersebut, kawasan sekitar Jam Gadang menjadi bagian dari dinamika politik dan perjuangan bangsa.
Karena nilai sejarahnya yang tinggi, banyak masyarakat yang menyebut Jam Gadang sebagai penjaga memori Kota Bukittinggi.
Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Jam Gadang menjelma menjadi destinasi wisata unggulan Sumatera Barat.
Lokasinya yang berada di pusat Kota Bukittinggi membuat kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.