gaya-hidup

100 Tahun Jam Gadang: Ikon Bukittinggi yang Menjadi Penjaga Sejarah dan Kebanggaan Minangkabau

Minggu, 14 Juni 2026 | 18:00 WIB
100 Tahun Jam Gadang: Ikon Bukittinggi yang Menjadi Penjaga Sejarah dan Kebanggaan Minangkabau. (kliksolonews/dok Kemenpar)

BUKITTINGGI, KLIKSOLONEWS.COM – Tahun 2026 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Sumatera Barat. Salah satu landmark paling terkenal di Indonesia, Jam Gadang, genap berusia satu abad sejak pertama kali berdiri pada 1926.

Selama 100 tahun, menara jam yang menjulang di pusat Kota Bukittinggi ini tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa, simbol identitas budaya Minangkabau, serta magnet utama pariwisata Sumatera Barat.

Dari hadiah pemerintah kolonial Belanda hingga menjadi ikon kebanggaan masyarakat Indonesia, perjalanan panjang Jam Gadang menyimpan banyak kisah yang menarik untuk dikenang.

Dilansir laman resmi Kementerian Pariwisata (Kemenpar), berikut 100 Tahun Jam Gadang: Ikon Bukittinggi yang Menjadi Penjaga Sejarah dan Kebanggaan Minangkabau.

Baca Juga: Kereta Panoramic KAI Wisata Hadirkan Pengalaman Baru yang Instagramable

Jam Gadang yang merupakan ikon wisata Sumatera Barat dibangun pada 20 Juni 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Menara tersebut merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada pejabat kontrolir Fort de Kock, H.R. Rookmaaker.

Pembangunannya menghabiskan biaya sekitar 3.000 gulden dan dikerjakan oleh arsitek putra daerah, Yazid Abidin atau Jazid Rajo Mangkuto, dengan melibatkan tenaga ahli lokal.

Nama Jam Gadang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti "Jam Besar". Nama tersebut merujuk pada empat unit jam berukuran besar yang terpasang di setiap sisi menara dan dapat dilihat dari berbagai penjuru kota.

Seiring berjalannya waktu, nama Jam Gadang melekat kuat sebagai identitas Kota Bukittinggi dan menjadi simbol yang paling dikenal dari Sumatera Barat.

Dibangun Tanpa Semen dan Besi

Salah satu fakta menarik yang membuat Jam Gadang istimewa adalah teknik konstruksinya yang tergolong unik untuk ukuran bangunan pada masanya.

Menara setinggi 26 meter ini dibangun tanpa menggunakan semen maupun rangka baja. Sebagai perekat, para pembangunnya menggunakan campuran kapur, pasir putih, dan putih telur.

Meski dibangun dengan metode tradisional, konstruksi tersebut terbukti sangat kuat. Jam Gadang tetap berdiri kokoh setelah melewati berbagai peristiwa sejarah, perubahan zaman, hingga bencana alam yang pernah terjadi di wilayah Sumatera Barat.

Baca Juga: Solo Safari Hadirkan Safari Night Adventure, Wisata Satwa Malam Pertama di Jateng

Halaman:

Tags

Terkini