gaya-hidup

Ngunduh Mantu: Tradisi Penyambutan Mempelai Wanita dalam Adat Jawa yang Sarat Makna

Selasa, 11 Februari 2025 | 20:43 WIB
Salah satu prosesi adat Jawa Ngunduh Mantu. (Foto: PInterest)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Dalam budaya Jawa, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga dua keluarga besar. Salah satu prosesi yang masih sering dilakukan hingga kini adalah Ngunduh Mantu, sebuah tradisi yang menandai penerimaan mempelai wanita oleh keluarga mempelai pria.

Meski sifatnya tidak wajib, banyak keluarga Jawa yang tetap melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya.

Secara etimologi, Ngunduh Mantu berasal dari bahasa Jawa, di mana "ngunduh" berarti memanen, sedangkan "mantu" berarti menantu. Tradisi ini bermakna simbolis bahwa keluarga mempelai pria telah "memanen" menantu yang kini menjadi bagian dari keluarga mereka.

Tradisi ini telah ada sejak zaman kerajaan Jawa, di mana pernikahan bukan hanya soal hubungan dua individu, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan politik antar keluarga.

Pada masa itu, Ngunduh Mantu dilakukan dengan penuh kemegahan, melibatkan prosesi adat yang sarat makna dan dihadiri oleh kerabat serta pejabat kerajaan.

Seiring waktu, tradisi ini tetap dipertahankan, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.

Ngunduh Mantu biasanya diadakan sekitar lima hari setelah akad nikah dan resepsi utama yang umumnya digelar oleh keluarga mempelai wanita.

Prosesi ini terdiri dari beberapa tahapan, antara lain:

Kedatangan Mempelai Wanita: Mempelai wanita datang ke rumah keluarga mempelai pria, didampingi oleh orang tua serta kerabat dekat. Kedatangan ini melambangkan perpindahan secara simbolis ke dalam keluarga baru.

Sungkem: Kedua mempelai melakukan sungkem kepada orang tua mempelai pria sebagai bentuk penghormatan dan tanda syukur. Ritual ini mencerminkan sikap rendah hati serta doa untuk kehidupan pernikahan yang harmonis.

Duduk di Pelaminan: Setelah sungkem, pasangan pengantin duduk di pelaminan sebagai simbol resmi diterimanya mempelai wanita dalam keluarga besar suaminya. Orang tua mempelai wanita juga dipersilakan untuk duduk di sisi pelaminan.

Resepsi & Syukuran: Acara dilanjutkan dengan jamuan makan bersama keluarga besar dan tamu undangan. Resepsi ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari yang sederhana hingga besar-besaran, tergantung kondisi dan kemampuan keluarga.

Esensi dari tradisi Ngunduh Mantu tidak hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur, memperkuat hubungan kekeluargaan, serta memastikan bahwa mempelai wanita diterima dengan baik di lingkungan keluarga suami.

Dalam filosofi Jawa, Ngunduh Mantu juga mengandung makna bahwa pernikahan bukan hanya soal individu, tetapi juga menyatukan dua keluarga yang memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun rumah tangga yang harmonis. (KS06)

 

Tags

Terkini