KLIKSOLONEWS.COM - Minuman berbahan gula aren kini semakin mudah ditemukan di berbagai kafe dan gerai minuman kekinian.
Mulai dari kopi susu hingga berbagai varian minuman modern, gula aren kerap dipilih karena dianggap memiliki rasa khas dan lebih “alami” dibandingkan gula putih.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah gula aren benar-benar lebih sehat, atau hanya sekadar tren gaya hidup?
Apa itu gula aren? Dilansir laman resmi Kemenkes, gula aren berasal dari nira pohon aren yang dimasak hingga mengental lalu mengkristal. Proses pembuatannya relatif lebih tradisional dan tidak melalui pemurnian seketat gula putih.
Karena itu, gula aren masih mengandung sejumlah kecil mineral seperti kalium, magnesium, dan zat besi. Meski demikian, jumlahnya sangat kecil sehingga tidak bisa dianggap sebagai sumber nutrisi utama.
Meski berasal dari bahan alami, gula aren tetap mengandung sukrosa yang dapat meningkatkan kadar gula darah. Artinya, gula aren tetap termasuk gula tambahan yang perlu dibatasi konsumsinya.
Perbedaannya dengan gula putih hanya pada indeks glikemik yang sedikit lebih rendah. Namun secara praktis, dampaknya terhadap tubuh tetap akan signifikan jika dikonsumsi berlebihan.
Risiko Konsumsi Berlebihan
Masalah utama bukan pada jenis gula, tetapi jumlah konsumsinya. Minuman berbasis gula aren umumnya tinggi kalori dan rendah rasa kenyang, sehingga mudah dikonsumsi berlebihan tanpa disadari.
Jika dikonsumsi terlalu sering, risiko yang dapat muncul antara lain:
- Kenaikan berat badan
- Obesitas
- Diabetes tipe 2
- Penyakit jantung
- Gangguan metabolisme
Perlu diketahui banyak produk minuman “gula aren” di pasaran sebenarnya tidak sepenuhnya menggunakan gula aren murni. Sering terdapat tambahan gula lain, sirup, krimer, atau susu tinggi lemak yang meningkatkan total kalori minuman.
Kombinasi ini membuat satu gelas minuman kekinian bisa mengandung gula dan kalori yang cukup tinggi.
Boleh Dikonsumsi, tapi Perlu Batas
Minuman gula aren tetap boleh dikonsumsi selama dalam batas wajar. Organ tubuh masih mampu memproses gula jika tidak berlebihan.
Namun, konsumsi rutin setiap hari dengan porsi besar dapat melampaui batas aman asupan gula harian. Rekomendasi umum menyebutkan konsumsi gula tambahan sebaiknya tidak lebih dari 10% dari total kalori harian, bahkan idealnya di bawah 5%.
Beberapa kelompok perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi gula aren, seperti: