Jumat, 12 Juni 2026

Kenapa Orang Masih Percaya Dukun Pengganda Uang? Ini Penjelasan Psikologis dan Sosialnya

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 7 Mei 2026 | 10:00 WIB
Kenapa Orang Masih Percaya Dukun Pengganda Uang? Ini Penjelasan Psikologis dan Sosialnya. (KlikSoloNews/dok AI)
Kenapa Orang Masih Percaya Dukun Pengganda Uang? Ini Penjelasan Psikologis dan Sosialnya. (KlikSoloNews/dok AI)

KLIKSOLONEWS.COM - Kasus penipuan berkedok dukun pengganda uang masih terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Meski sudah sering terungkap dan diberitakan, praktik ini tetap memakan korban dari berbagai latar belakang, bahkan termasuk kalangan terdidik.


Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa masih banyak orang percaya pada modus dukun palsu?


Salah satu alasan utama adalah dorongan psikologis untuk mendapatkan hasil instan. Dalam kondisi ekonomi sulit, seseorang cenderung mencari jalan pintas untuk memperbaiki keadaan finansialnya.


Konsep “uang berlipat ganda tanpa usaha” menjadi sangat menggoda, terutama bagi mereka yang sedang terdesak kebutuhan atau memiliki beban ekonomi tinggi. Harapan ini sering kali mengalahkan logika rasional.


Selain itu, ada juga efek confirmation bias, yakni kecenderungan seseorang hanya mempercayai informasi yang sesuai dengan keinginannya, sambil mengabaikan fakta yang bertentangan.


Di banyak daerah, kepercayaan terhadap hal-hal mistis masih cukup kuat. Praktik spiritual seperti ritual, benda-benda sakral, hingga sosok “orang pintar” telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat.


Hal ini membuat sebagian orang lebih mudah menerima klaim-klaim supranatural, termasuk penggandaan uang, apalagi jika dibungkus dengan simbol-simbol religius atau tradisional.


Pelaku biasanya memanfaatkan hal ini dengan menciptakan suasana ritual yang dramatis—lengkap dengan kemenyan, doa, hingga benda-benda tertentu—untuk memperkuat ilusi keaslian.



Teknik Manipulasi dan Hipnotis Sosial


Dukun palsu umumnya tidak hanya mengandalkan cerita, tetapi juga teknik manipulasi psikologis. Mereka membangun kepercayaan secara bertahap, mulai dari pendekatan personal, cerita kesuksesan palsu, hingga demonstrasi yang tampak “meyakinkan”.


Korban dibuat merasa spesial atau dipilih, sehingga muncul ikatan emosional yang membuatnya sulit berpikir jernih.


Dalam beberapa kasus, pelaku juga menciptakan tekanan waktu, misalnya dengan mengatakan ritual harus segera dilakukan, agar korban tidak sempat berpikir panjang atau berkonsultasi dengan orang lain.



Minimnya Literasi Keuangan dan Digital


Faktor lain yang tak kalah penting adalah rendahnya literasi keuangan. Banyak orang belum memahami prinsip dasar ekonomi bahwa tidak ada cara instan untuk melipatgandakan uang secara legal tanpa risiko.


Di era digital, informasi memang mudah diakses, namun tidak semua orang mampu memilah mana yang fakta dan mana yang manipulasi.


Kasus dukun pengganda uang bukan sekadar penipuan biasa, tetapi juga cerminan dari kombinasi faktor psikologis, budaya, dan ekonomi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X