Sabtu, 13 Juni 2026

Beras, Rokok, dan Kopi Sachet jadi Penyumbang Utama Garis Kemiskinan di Indonesia per Maret 2025

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Senin, 28 Juli 2025 | 15:30 WIB
Beras, Rokok, dan Kopi Sachet jadi Penyumbang Utama Garis Kemiskinan di Indonesia per Maret 2025. (KlikSoloNews/dok)
Beras, Rokok, dan Kopi Sachet jadi Penyumbang Utama Garis Kemiskinan di Indonesia per Maret 2025. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bahwa beras, rokok, dan kopi sachet masih menjadi komoditas utama penyumbang garis kemiskinan (GK) di Indonesia.

Laporan ini merujuk pada kondisi per Maret 2025, saat garis kemiskinan nasional ditetapkan sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan.

Beras tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Rinciannya di Perkotaan, beras menyumbang 21,01% terhadap GK.

Selanjutnya Perdesaan kontribusinya bahkan lebih tinggi, yaitu 24,93%. Secara nasional, rata-rata sumbangan beras terhadap garis kemiskinan tercatat sebesar 21,06%.

Kebiasaan konsumsi rokok juga menjadi perhatian serius. Rokok kretek filter masih menjadi komoditas penyumbang garis kemiskinan terbesar kedua Perkotaan: 10,72% dan Perdesaan: 9,76%.

Angka ini menunjukkan pengeluaran masyarakat miskin untuk rokok masih cukup signifikan, meskipun bukan merupakan kebutuhan dasar seperti pangan.

Kopi Sachet Masuk 10 Besar Penyumbang Kemiskinan

Hal menarik lainnya adalah masuknya kopi sachet sebagai salah satu dari 10 besar komoditas penyumbang garis kemiskinan.

Konsumsi kopi instan ini menunjukkan pola konsumsi masyarakat yang cenderung mengalokasikan sebagian pengeluaran pada produk siap saji, meski nilainya tidak sebesar beras atau rokok.

Untuk kategori komoditas non-makanan, berikut penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan:

Biaya perumahan/tempat tinggal:

  • Perkotaan: 9,11%

  • Perdesaan: 8,99%


Bensin (BBM):

  • Perkotaan: 3,06%

  • Perdesaan: 3,03%


Hal ini menunjukkan bahwa selain makanan, beban terbesar masyarakat miskin adalah terkait akses terhadap tempat tinggal yang layak dan biaya transportasi.

Data BPS per Maret 2025 menyoroti pola konsumsi rumah tangga miskin di Indonesia masih banyak terkonsentrasi pada kebutuhan pokok dan konsumsi tidak produktif.

Meski beras sebagai bahan pangan utama wajar menjadi kontributor dominan, tingginya sumbangan rokok dan kopi sachet menunjukkan tantangan dalam pengelolaan pengeluaran rumah tangga.

Penting bagi pemangku kebijakan untuk mempertimbangkan data ini dalam menyusun strategi penanggulangan kemiskinan, termasuk dalam edukasi konsumsi rumah tangga yang lebih sehat dan produktif.(ks01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X