JEPARA, KLIKSOLONEWS.COM — Di sebuah sudut sunyi di Dukuh Tambakrejo, Desa Mulyoharjo, Jepara, suara pahat masih terdengar menari-nari menembus batang kayu jati.
Di rumah sederhana milik Suyanto (60), sebuah warisan budaya yang nyaris dilupakan masih hidup—Macan Kurung, kerajinan ukir khas Jepara yang memadukan filosofi, sejarah, dan teknik tingkat tinggi dalam satu karya utuh yang tak terpecah sambungan.
Kerajinan ini bukan sembarang karya. Macan Kurung adalah simbol. Sebuah macan garang dalam kurungan, terikat rantai, dibatasi tiang, dan dijaga sepasang bola.
Ia tidak dibuat dari potongan kayu yang disatukan, tapi dipahat dari batang kayu utuh. Satu kesalahan pahat bisa berarti segalanya kembali ke awal. Butuh waktu, kesabaran, dan tentu, jiwa.
“Tidak ada sambungan. Semua harus utuh sejak awal. Ini bukan pekerjaan satu malam,” tutur Suyanto sembari mengelus permukaan ukiran yang hampir rampung.
Lahir pada masa kolonial, Macan Kurung tidak muncul dari kekosongan. Ia lahir dari semangat seorang perempuan muda bernama Raden Ajeng Kartini yang kala itu tengah menyiapkan pameran kerajinan Jepara untuk ditampilkan di Den Haag, Belanda. Usianya baru 19 tahun, tapi visi besarnya menjadikan ukir Jepara dikenal hingga Eropa.
Di antara karya-karya yang dikumpulkan Kartini, Macan Kurung menjadi simbol paling kuat. Filosofi di baliknya dalam: seekor macan sebagai lambang kekuasaan, namun dikurung—menggambarkan bahwa kekuasaan pun memiliki batas dan harus tunduk pada nilai-nilai moralitas.
Tak heran, Ratu Wilhelmina pun terpikat. Macan Kurung mendapat “izin ekspor” dari negeri jajahan, Hindia Belanda, dan menjadi duta tak resmi seni ukir Nusantara ke mata dunia.
Seni yang Hampir Punah
Namun kejayaan itu seperti tinggal cerita. Kini, perajin Macan Kurung bisa dihitung dengan jari. Suyanto termasuk yang terakhir. Ia adalah keturunan dari Asmo Sawiran, murid langsung tokoh ukir legendaris Singowiryo, yang disebut-sebut sebagai tonggak sejarah ukir Jepara.
“Saya belajar ukir sejak kecil. Dari ayah dan kakek. Tapi sekarang, saya sendiri di sini,” katanya, suaranya mengambang di antara suara pahat yang masih ritmis.
Macan Kurung bukan hanya ukiran. Ia adalah kisah tentang kesabaran. Butuh tiga hingga empat pekan untuk menyelesaikan satu karya berukuran tinggi 50-60 cm dengan diameter 30 cm.
Pakem-pakem pembuatan ukiran Macan Kurung tidak boleh dilanggar yakni rantai, dua bola, tiang penyangga naga jawa (soko nogo), dan tentu saja, macan di dalam sangkar.
Bagian atasnya? Bisa custom. Kadang burung garuda, kadang Rama dan Sinta, tergantung pesanan.
Seni ini menantang nalar. Bagaimana mungkin seekor macan lengkap dengan rantai, bola, dan sangkar bisa keluar dari sebatang kayu utuh tanpa sambungan? Tak banyak yang tahu tekniknya, dan tak sembarang pemahat bisa menirunya.
Ukiran tiga dimensi umumnya berbentuk balok dengan sisi-sisi rata. Tapi Macan Kurung berbentuk tabung, tinggi sekitar 70 cm, lebar 30 cm. Prosesnya presisi, mengandalkan ketelitian yang diwariskan turun-temurun, bukan dari sketsa komputer atau mesin modern.
Makna Macan Kurung tetap relevan hari ini. Ia bicara tentang batas kekuasaan, tentang pengendalian diri, tentang tanggung jawab seorang pemimpin. Di zaman serba cepat dan instan, Macan Kurung justru menawarkan pesan perlambatan—bahwa hal-hal besar membutuhkan waktu, keterampilan, dan kedalaman makna.
Kini tinggal sedikit yang mau membuatnya, apalagi mempelajarinya. Tapi selama Suyanto masih mengayunkan pahatnya, Macan Kurung masih hidup—dalam diam, dalam kayu, dalam filosofi yang terus menunggu didengar kembali.
“Kalau tidak ada yang meneruskan, bisa jadi saya pembuat terakhir,” ucap Suyanto, pelan.
Jejak Sejarah Macan Kurung
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan selera pasar, satu warisan budaya ukir dari Jepara perlahan mulai tenggelam: Macan Kurung. Seni ukir ini bukan sekadar produk kerajinan, melainkan simbol kuat yang lahir dari tekanan sejarah kolonialisme dan kehidupan feodal di masa lampau.
Macan Kurung diperkirakan muncul pertama kali pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Saat itu, para perajin Jepara hidup dalam tekanan ekonomi dan budaya. Seni ukir yang mereka hasilkan tidak hanya sekadar keindahan rupa, tetapi juga menjadi media ekspresi rasa perlawanan.
Macan yang dikurung dalam sangkar kayu dipercaya oleh banyak kalangan sebagai perlambang hasrat mengekang kekuasaan penjajah. Dalam konteks sosial, macan itu juga bisa dibaca sebagai simbol para bangsawan atau pemimpin yang harus dikendalikan oleh nilai-nilai moralitas.
Semangat ini semakin diperkuat pada masa RA Kartini, ketika kerajinan Jepara dikenalkan ke mata dunia melalui pameran internasional. Sejak itu, Macan Kurung dikenal sebagai salah satu karya ukir paling unik dan bernilai filosofis tinggi, bahkan sempat mengalami masa kejayaan selama hampir satu abad setelahnya.
Namun kini, Macan Kurung tidak lagi seterang dulu. Jumlah perajinnya bisa dihitung dengan jari. Popularitasnya di kalangan pembeli menurun drastis. Beberapa faktor turut memengaruhi redupnya eksistensi seni ukir Macan Kurung.
1. Generasi Muda yang Berpaling
Minimnya minat dari anak-anak muda menjadi tantangan besar. Seni ukir tradisional dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi dan memerlukan waktu belajar yang lama. Banyak yang lebih memilih jalur karier cepat dengan hasil instan ketimbang menekuni profesi sebagai pengrajin.
2. Proses Produksi yang Rumit
Tak seperti ukiran biasa, Macan Kurung dibuat dari sebatang kayu utuh tanpa sambungan. Dalam satu karya, terdapat banyak elemen: macan, kurungan, rantai, tiang, dan bola—semua diukir utuh, presisi, dan tak boleh meleset. Tak heran jika prosesnya bisa memakan waktu hingga sebulan.
3. Pasar yang Bergeser
Industri mebel dan kerajinan kini cenderung mengejar kecepatan dan efisiensi produksi. Produk massal yang cepat jadi dan murah lebih digemari daripada ukiran penuh filosofi yang memerlukan waktu panjang. Akibatnya, kerajinan seperti Macan Kurung tak lagi punya tempat dalam pasar komersial global.
Meski jumlah perajin tinggal sedikit, masih ada yang bertahan, seperti Suyanto, perajin di Desa Mulyoharjo, Jepara. Ia mewarisi keahlian turun-temurun dari leluhurnya dan terus membuat Macan Kurung meski pasar tak lagi ramai.
Jika tidak ada upaya pelestarian dan regenerasi, seni ukir yang pernah menggetarkan istana Ratu Belanda itu bisa benar-benar punah hanya dalam hitungan dekade. Macan Kurung, dengan segala filosofi dan keindahannya, bisa jadi hanya tinggal cerita dalam buku sejarah.(KS01)