Jumat, 12 Juni 2026

Bola Menyala, Semangat Membara: Sepak Bola Api Jadi Magnet Tradisi Desa Kawak di Jepara

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 8 Mei 2025 | 09:35 WIB
Bola Menyala, Semangat Membara: Sepak Bola Api Jadi Magnet Tradisi Desa Kawak di Jepara. (KlikSoloNews/dok JatengNOW)
Bola Menyala, Semangat Membara: Sepak Bola Api Jadi Magnet Tradisi Desa Kawak di Jepara. (KlikSoloNews/dok JatengNOW)

JEPARA, KLIKSOLONEWS.COM – Bayangkan bermain bola... tapi bolanya bukan dari kulit, melainkan kelapa terbakar yang menyala merah menyilaukan.

Kedengarannya ekstrem? Tidak bagi warga Desa Kawak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara. Bagi mereka, ini bukan sekadar pertandingan—ini adalah bagian dari warisan budaya yang sudah menyatu dengan jiwa desa.

Selasa 6 Mei 2025, malam, suasana halaman MTs Tashilul Muhtadiin terasa berbeda dari biasanya. Sekitar pukul 21.00 WIB, sorak-sorai warga mulai menggema. Lampu-lampu seadanya berpadu dengan cahaya api yang melompat-lompat di tengah lapangan. Inilah momen yang ditunggu: Sepak Bola Api.

Tapi sebelum pertandingan panas ini dimulai, para pemain terlebih dulu menjalani prosesi sakral. Mereka berjalan dari punden buyutan—tempat keramat desa—membawa kelapa utuh dan air suci dari mbelik sucen.

Di titik ini, mistik dan semangat menyatu. Air suci yang merupakan campuran dari air, minyak kelapa, dan sabun dioleskan ke tubuh para pemain oleh tetua adat, dipercaya mampu meredam panas dan memberi perlindungan.

“Memang sedikit panas, tapi panasnya nggak kerasa karena sudah diolesi air suci,” ujar Candra (17), salah satu pemain muda yang mewakili Karang Taruna Tunas Berlian dilansir jatengNOW, jejaring KlikSoloNews.

Pertandingan dibagi dalam dua babak, masing-masing 15 menit. Dua tim—Tim Merah dan Tim Hijau—dibedakan hanya lewat ikat kepala.

Pakaian mereka? Cuma celana hitam dan semangat tak kenal takut. Hasil akhir? Tim Merah menang dengan skor 5-3.

Tapi jelas, malam itu semua pemain adalah pemenang—melawan panas, melawan takut, dan menang atas rasa malas melestarikan tradisi.

Petinggi Desa Kawak, Eko Heri Purwanto, menjelaskan bahwa acara ini bagian dari rangkaian Sedekah Bumi—sebuah bentuk syukur masyarakat desa kepada alam dan Sang Pencipta.

“Permainan ini simbol perjuangan melawan hawa nafsu dan amarah. Harapannya bisa membawa keberkahan dan kemakmuran,” ungkap Eko Heri.

Lebih dari 1.000 warga dari berbagai desa turut hadir. Tak hanya menonton, mereka juga menyatu dalam suasana hangat—dalam arti sesungguhnya—dengan wajah-wajah kagum dan tepuk tangan meriah setiap kali bola api berhasil dikontrol dengan kaki telanjang.

“Ini bukan soal menang atau kalah,” tambah Eko Heri. “Tapi bagaimana generasi muda bisa tetap bangga dan menjaga budaya warisan leluhur.”

Di tengah gempuran zaman dan gemerlap modernitas, Desa Kawak mengingatkan kita bahwa tradisi tak harus tinggal cerita. Kadang, cukup dengan sebiji kelapa, secercah api, dan segenggam semangat gotong royong—budaya bisa tetap menyala.(ks01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X