Jumat, 12 Juni 2026

Bogamania: Bukan Roti Biasa! Sourdough Kembali Tren karena Rasa Unik dan Manfaat Sehatnya

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Selasa, 29 April 2025 | 12:30 WIB
Berbeda dari roti konvensional yang menggunakan ragi instan, sourdough dibuat melalui proses fermentasi alami dari campuran tepung, air, dan sedikit gula yang dibiarkan selama beberapa hari. (Foto: Unsplash/Debbie Widjaja)
Berbeda dari roti konvensional yang menggunakan ragi instan, sourdough dibuat melalui proses fermentasi alami dari campuran tepung, air, dan sedikit gula yang dibiarkan selama beberapa hari. (Foto: Unsplash/Debbie Widjaja)

KLIKSOLONEWS.COM — Di tengah kesadaran hidup sehat yang makin meluas, satu jenis roti klasik kembali jadi primadona di meja makan masyarakat urban, roti sourdough. Lebih dari sekadar camilan, roti ini kini banyak dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan bergizi karena rasa asam alaminya serta kandungan nutrisinya yang kaya.

Berbeda dari roti konvensional yang menggunakan ragi instan, sourdough dibuat melalui proses fermentasi alami dari campuran tepung, air, dan sedikit gula yang dibiarkan selama beberapa hari.

Proses ini menghasilkan ragi liar dan bakteri baik seperti lactobacillus, yang dipercaya dapat membantu pencernaan dan meningkatkan penyerapan nutrisi dalam tubuh.

“Fermentasi alami membuat struktur gluten dalam roti menjadi lebih mudah dicerna. Ini yang membuat sourdough sering direkomendasikan untuk mereka yang sensitif terhadap gluten ringan,” ujar Dr. Emily Wong, ahli nutrisi dari Global Wellness Institute, dalam wawancara dengan Healthline.

Tak hanya kaya manfaat, teksturnya juga memikat. Lapisan kulit luar yang renyah berpadu dengan bagian dalam yang empuk dan berongga menciptakan sensasi gigitan yang khas. Rasa asam yang lembut berasal dari fermentasi alami, memberi karakter tersendiri dibanding roti biasa.

Meski terdengar seperti tren masa kini, sourdough sebenarnya telah ada sejak lebih dari 4.000 tahun lalu, bahkan dipercaya pertama kali dikembangkan oleh Bangsa Mesir Kuno.

Sejumlah arkeolog meyakini bahwa jenis roti ini disiapkan dalam jumlah besar untuk para pekerja bangunan piramida, menjadi sumber energi tahan lama saat teknologi makanan masih sangat terbatas.

Kini, roti sourdough kembali menjadi sorotan di tengah budaya makan sadar gizi. Banyak restoran dan bakery artisan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Bali, mulai menyajikan sourdough sebagai menu utama atau alternatif sehat pengganti roti putih.

Menurut laporan pasar dari Grand View Research (2024), tren konsumsi roti fermentasi alami seperti sourdough diprediksi tumbuh sebesar 6,5 persen per tahun hingga 2030. Hal ini dipicu meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan usus dan makanan minim proses industri.

Bagi yang sedang menjalani program diet atau sekadar ingin hidup lebih sehat, sourdough bisa menjadi pilihan cerdas.

Disajikan bersama alpukat, telur, atau hanya dengan mentega tawar, roti ini tetap menggugah selera dan memberi rasa kenyang lebih lama berkat kandungan serat dan asam organiknya.

Jadi, jika Anda ingin mencoba kenikmatan klasik yang kembali relevan di era modern, sourdough adalah jawabannya. Tidak hanya mengenyangkan, tapi juga menyelamatkan pencernaan, semua dalam satu potong roti. (KS06)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X