WONOGIRI, KLIKSOLONEWS.COM — Siapa sangka, dari sebuah ‘kecelakaan’ dalam proses membatik, lahir sebuah mahakarya yang kini mendunia.
Batik Remekan Wonogiri, batik tulis khas dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tengah naik daun berkat karakter motifnya yang unik dan autentik.
Warisan budaya ini kini tak hanya digandrungi kolektor lokal, tapi juga mulai menembus pasar global sebagai ikon fashion yang sarat nilai historis dan estetika tinggi.
Batik ini bermula dari perajin bernama Kanjeng Wonogiren yang pada tahun 1910 secara tak sengaja merusak malam (lilin batik) dalam proses pembatikan.
Alih-alih gagal, hasil akhirnya justru memikat karena pola remek atau pecah-pecah tak beraturan itu menciptakan efek visual artistik yang belum pernah ada sebelumnya. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Batik Remekan, istilah yang melekat hingga hari ini.
Keunikan Batik Remekan Wonogiri terletak pada teknik dan tampilannya. Motifnya tak berpola kaku seperti batik klasik lainnya.
Sulur-sulur halus yang tercipta secara alami dari proses remekan menimbulkan kesan organik yang justru memperkuat nilai seni dan keaslian tiap helai kainnya. Tak ada dua lembar batik yang sama, menjadikannya sebagai statement piece yang sangat dihargai dalam dunia fesyen.
Di tengah dominasi batik dari Jogja, Solo, dan Pekalongan, Batik Remekan sempat tenggelam dan kurang dikenal publik.
Namun berkat dorongan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Wonogiri dan pegiat batik seperti Verawati Joko Sutopo, kini Batik Remekan bangkit dan siap bersaing.
“Malamnya itu hancur bentuknya seperti remekan. Terus malah hasilnya disukai sehingga sampai saat ini motif remekannya itu yang menjadi khas,” kata Vera sebagaimana dikutip dari laman jejaring SOCLyfe.com.
“Tidak berpola tetapi remekan bentuknya pecah-pecah galur-galur dan banyak masyarakat yang mengira Batik Wonogiri ini motifnya mete atau yang lain, sebenarnya tidak ada masalah selama proses pembuatannya diremek,” tambahnya.
Vera menyebutkan jumlah UMKM pembatik meningkat dari 200 menjadi lebih dari 1.000 pelaku usaha dalam beberapa tahun terakhir.
Tak hanya diakui dalam negeri, Batik Remekan Wonogiri juga telah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM RI, serta terdaftar dalam UNESCO. Pengakuan ini tidak hanya menegaskan keaslian dan keunikan batik ini, tetapi juga memberi perlindungan hukum bagi para perajinnya agar tak ditiru sembarangan.
Ciri khas Batik Remekan tak hanya pada motif, tapi juga warna. Kandungan kapur dalam air Wonogiri memberi pengaruh besar pada warna sogan yang digunakan, menghasilkan nuansa yang berbeda dari sogan Solo atau Jogja.
Inilah yang membuat warna Batik Remekan tampak lebih ‘matte’ namun hangat, cocok untuk koleksi fashion berkelas namun tetap bernuansa etnik.
Kini, Batik Remekan Wonogiri tak hanya dijual secara offline di sentra kerajinan, tetapi juga telah menembus berbagai platform e-commerce.
Para perajinnya pun semakin percaya diri mengikuti pameran mode nasional dan internasional, membuktikan bahwa Batik Remekan bukan hanya simbol budaya, tetapi juga bagian dari gaya hidup modern. (KS06)