Sabtu, 13 Juni 2026

Fenomena Milenial dan Gen Z Pilih Jadi Pengangguran Ketimbang Tersiksa di Tempat Kerja

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Rabu, 9 April 2025 | 15:27 WIB
Ilustrasi generasi Z yang bisa kerja dimana saja asal nyaman. (Foto: Unsplash/Eliott Reyna)
Ilustrasi generasi Z yang bisa kerja dimana saja asal nyaman. (Foto: Unsplash/Eliott Reyna)

KLIKSOLONEWS.COM - Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif, fenomena baru muncul dari dua generasi terbesar di Indonesia: milenial dan Gen Z.

Alih-alih mempertahankan pekerjaan dengan tekanan tinggi, banyak dari mereka justru memilih untuk berhenti bekerja atau bahkan menolak bekerja sama sekali jika lingkungan kerja dianggap tidak selaras dengan nilai dan kebahagiaan pribadi mereka.

Fenomena ini tidak berdiri tanpa dasar. Berdasarkan jurnal dari Universitas Negeri Malang, milenial dan Gen Z cenderung lebih mementingkan kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan nilai-nilai personal ketimbang stabilitas finansial semata.

Mereka tidak segan menganggur sementara demi menghindari beban kerja yang dirasa mengganggu kualitas hidup mereka. Hal ini menjadi pergeseran besar dari pola pikir generasi sebelumnya yang menjunjung tinggi stabilitas kerja dan loyalitas jangka panjang pada satu perusahaan.

Milenial, atau Generasi Y, yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, dikenal sebagai kelompok yang ambisius dan tidak puas hanya dengan capaian standar. Mereka disebut sebagai generasi “pencari makna” dalam pekerjaan dan ingin merasa dihargai serta memiliki ruang berkembang.

Sementara Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di tengah kecanggihan teknologi dan memiliki karakter yang lebih individualistis, berani, dan vokal terhadap apa yang mereka anggap tidak sesuai.

Ketidakbahagiaan di dunia kerja, baik bagi milenial maupun Gen Z, umumnya disebabkan oleh dua faktor utama yakni internal dan eksternal.

Secara internal, mereka sering kali mengalami kecemasan, overthinking, hingga pemikiran negatif yang berdampak pada performa dan kepuasan kerja. Banyak dari mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan hidup dalam tekanan untuk selalu menjadi versi terbaik, yang ironisnya justru menambah beban psikologis.

Dari sisi eksternal, lingkungan kerja yang toksik, tuntutan dari atasan, ekspektasi keluarga, hingga tekanan sosial dari teman sebaya turut memperparah kondisi.

Ketika faktor-faktor ini berakumulasi, tidak sedikit yang memutuskan untuk berhenti dan mengambil jeda. Istilah seperti “quiet quitting” dan “career break” menjadi semakin populer sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kerja yang dianggap tidak manusiawi.

Data dari Deloitte Global 2022 Millennial and Gen Z Survey mengungkap bahwa sekitar 40 persen Gen Z dan 24 persen milenial mengaku mengalami stres secara berkala akibat pekerjaan. Bahkan, survei Cigna pada 2021 menyatakan bahwa lebih dari 70 persen Gen Z mengalami perasaan kesepian dan tekanan emosional yang signifikan.

Fenomena ini diperparah oleh paparan media sosial yang sering menampilkan standar hidup tinggi dan pencapaian orang lain secara berlebihan, memicu rasa tidak puas dan membandingkan diri secara tidak sehat.

Pergeseran pola pikir ini memberi sinyal penting bagi perusahaan. Kesejahteraan mental bukan lagi sekadar bonus, melainkan kebutuhan utama.

Dunia kerja saat ini tidak hanya dituntut adaptif secara teknologi, tapi juga secara emosional dan psikologis. Jika tidak, maka gelombang resign dan angka pengangguran sukarela di kalangan muda akan terus meningkat.

Meski tidak semua individu dari dua generasi ini bersikap demikian, tren ini menunjukkan bahwa milenial dan Gen Z lebih memilih menganggur daripada kehilangan jati diri dan kebahagiaan.

Mereka ingin bekerja dengan tujuan, dalam lingkungan yang suportif, dan dengan nilai yang sesuai. Pilihan mereka memang berisiko, namun mungkin inilah cara mereka membangun ulang makna pekerjaan di era yang serba cepat dan penuh tekanan. (KS06)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X