Jumat, 12 Juni 2026

Demi Viral, Rela Cemas: Ketika FOMO di Medsos Menggerogoti Kesehatan Mental

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Selasa, 8 April 2025 | 17:00 WIB
Ilustrasi tren di sosial media yang berdampak buruk pada sosial maupun emosional seseorang. (Foto: Unsplash/Jon Tyson)
Ilustrasi tren di sosial media yang berdampak buruk pada sosial maupun emosional seseorang. (Foto: Unsplash/Jon Tyson)

KLIKSOLONEWS.COM - Mengikuti tren viral di media sosial kini bukan sekadar hiburan, tetapi telah berubah menjadi tekanan sosial yang nyaris tak terhindarkan.


Di balik video berjoget, tantangan unik, atau tren selfie ekstrem, tersimpan fenomena psikologis yang disebut Fear of Missing Out (FOMO), yang makin mengkhawatirkan karena berpotensi mengganggu kesejahteraan mental penggunanya.


Menurut survei yang dilakukan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), sekitar 35 persen responden mengakui bahwa FOMO memengaruhi kondisi mental mereka, termasuk munculnya perasaan cemas, tertekan, dan kehilangan arah.


Fenomena ini semakin kompleks karena media sosial kini seolah menjadi barometer eksistensi individu.


Studi dari American Psychological Association menguatkan hal ini, dengan menyebut bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan memiliki korelasi kuat dengan peningkatan tingkat kecemasan dan depresi, khususnya pada kelompok usia remaja dan dewasa muda.


Psikolog Klinis dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI), Anna Surti Ariani, menyebut bahwa mengikuti tren viral bisa jadi cerminan dari ketidakpercayaan diri yang mendalam. Dalam pandangannya, dorongan untuk selalu ikut tren sering kali bukan didasari kesukaan pribadi, melainkan rasa takut tertinggal dan keinginan untuk diterima.


“Orang-orang ikut tren viral karena takut tertinggal, tapi seringkali ini juga mencerminkan kurang percaya diri. Masalah kurang percaya diri ini adalah salah satu bentuk gangguan mental,” ungkap Anna.


Lebih lanjut, Anna juga menyoroti bahwa perilaku ini bisa menjadi gejala dari kecenderungan lain, seperti people pleasing atau perilaku menyenangkan orang lain dengan mengorbankan kenyamanan diri sendiri.


Beberapa bahkan melakukannya demi sensasi semata, tanpa mempertimbangkan risiko yang ditimbulkan.


Tak hanya berdampak pada mental pribadi, tren viral yang dilakukan tanpa kesadaran juga kerap merugikan lingkungan sekitar. Mulai dari kasus kerusakan fasilitas umum hingga membahayakan keselamatan diri sendiri. Fenomena ini menegaskan bahwa FOMO tak hanya menjadi ancaman personal, tapi juga sosial.


Jika seseorang sudah mengalami kecanduan untuk terus mengikuti tren di media sosial, maka intervensi profesional menjadi langkah penting.


Keluarga dan teman dekat memegang peran krusial dalam membantu individu keluar dari jeratan FOMO.


Memberikan pemahaman secara empatik bahwa perilaku mereka bisa merugikan, seperti bolos sekolah atau pekerjaan demi membuat konten, diharapkan bisa membuka jalan menuju kesadaran dan keinginan untuk mencari pertolongan. (KS06)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X