Jumat, 12 Juni 2026

Fenomena Duck Syndrome, Terlihat Tenang, Padahal Mental Sedang Berjuang

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Senin, 7 April 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi duck syndrome. (Foto: Unsplash/Cengiz Ozarpat)
Ilustrasi duck syndrome. (Foto: Unsplash/Cengiz Ozarpat)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Di era serba cepat dan kompetitif, tekanan hidup sering kali dibungkam di balik senyum dan pencapaian yang tampak mulus.

Salah satu fenomena psikologis yang mencerminkan kondisi ini adalah duck syndrome atau sindrom bebek, sebuah istilah yang kini makin banyak diperbincangkan, terutama di kalangan generasi muda.

Istilah ini pertama kali dicetuskan Stanford University di Amerika Serikat. Duck syndrome dianalogikan seperti bebek yang tampak tenang mengapung di permukaan air, padahal di bawahnya, kaki bebek tersebut mendayung dengan panik agar tetap bertahan.

Begitu pula dengan orang yang mengalami sindrom ini, tampak tenang dan sukses dari luar, namun diam-diam berjuang keras menahan tekanan dari dalam.

Menariknya, duck syndrome belum secara resmi dikategorikan sebagai gangguan mental, namun fenomena ini umum dialami terutama oleh mahasiswa, pekerja muda, dan individu yang sedang berada dalam fase membangun kehidupan dan karier.

Menurut data dari American Psychological Association (APA), generasi muda (usia 18-35 tahun) termasuk dalam kelompok usia dengan tingkat stres dan kecemasan tertinggi, terutama akibat tekanan sosial, beban prestasi, dan paparan media sosial yang intens.

Ciri khas dari duck syndrome adalah kemampuan seseorang untuk tetap menjalankan aktivitasnya secara normal, namun disertai dengan kecemasan, rasa tidak cukup, dan ketakutan terus-menerus terhadap penilaian orang lain.F

Fenomena ini juga erat kaitannya dengan budaya stoicism, atau ketabahan yang dibentuk oleh tuntutan sosial untuk selalu terlihat "baik-baik saja."

Duck syndrome ini seperti tekanan diam-diam yang bisa meledak sewaktu-waktu. Ketika seseorang memendam semua beban tanpa ventilasi emosi yang sehat, maka risiko depresi dan burnout bisa sangat tinggi," kata psikolog klinis Rena Sari Putri yang dikutip dari SOCLyfe.com, jejaring KlikSoloNews.

Selain itu, media sosial juga dianggap sebagai faktor pemicu utama. Kehidupan yang dikurasi dan ditampilkan di media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu tampil sempurna, membandingkan diri, dan akhirnya memaksakan diri di luar batas.

  • Untuk mengurangi dampak duck syndrome, ada beberapa langkah yang disarankan para ahli, antara lain:
    Mengurangi paparan media sosial dan membatasi waktu layar

  • Membangun komunikasi terbuka dengan orang-orang terdekat

  • Melatih kesadaran diri lewat journaling atau mindfulness

  • Menghindari konsumsi rokok dan kafein berlebih yang bisa memicu kecemasan

  • Berkonsultasi dengan profesional bila tekanan mulai terasa tidak tertahankan


Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, penting bagi siapa pun untuk menyadari tidak apa-apa terlihat rapuh dan meminta bantuan. Karena sejatinya, setiap orang sedang berjuang dengan "dayungan kaki"-nya masing-masing, meskipun permukaan air terlihat begitu tenang. (KS06)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X