SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Siapa sangka, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, kepercayaan kuno dari Asia Timur justru semakin populer dan dipercaya banyak orang, termasuk generasi muda.
Salah satunya adalah teori red string of fate atau teori benang merah takdir, yang menyatakan bahwa setiap orang telah terhubung secara tak kasat mata dengan sosok jodohnya melalui seutas benang merah.
Teori ini sangat populer di Jepang dan Tiongkok. Dalam bahasa Jepang dikenal dengan “akai ito”, sementara dalam bahasa Mandarin disebut “yuanfen”.
Kepercayaan ini menyebutkan dua orang yang ditakdirkan untuk bersama akan terhubung oleh benang merah yang tak terlihat. Meskipun benang ini bisa melar, kusut, atau tertunda oleh waktu dan jarak, ia tak akan pernah putus.I
Menurut legenda Tiongkok, para dewa akan mengikatkan benang ini pada pergelangan kaki dua orang yang ditakdirkan untuk bersama.
Bahkan, dikisahkan seorang pria tua dari bulan yang dikenal sebagai Yue Lao, dewa perjodohan dalam mitologi Tiongkok, turun ke bumi untuk menghubungkan dua insan yang berjodoh.
Yang menarik, konsep ini tak hanya berlaku di budaya Timur. Beberapa masyarakat Barat juga percaya pada metafora hubungan tak kasat mata ini.C
Contohnya, penyanyi Amerika Taylor Swift dalam lagunya yang berjudul "Invisible String", menyiratkan keyakinan akan koneksi tak terlihat namun kuat antara dua orang yang memang ditakdirkan bertemu.
Tak hanya dalam lagu, teori red string juga banyak muncul dalam budaya populer, film, hingga anime Jepang seperti "Your Name (Kimi no Na wa)", yang menjadi salah satu contoh kuat tentang benang merah takdir dan cinta yang melintasi ruang dan waktu.
Lebih dari sekadar soal asmara, di Jepang, benang merah dipercaya juga menghubungkan takdir pertemanan, keluarga, hingga rekan kerja. Hal ini menegaskan konsep red string mencakup seluruh aspek hubungan yang penuh makna dalam kehidupan seseorang.
Secara psikologis, kepercayaan semacam ini bisa memberikan harapan dan semangat bagi seseorang untuk tidak menyerah dalam pencarian makna hubungan. Rasa “terhubung” yang sulit dijelaskan ketika bertemu seseorang, sering kali disebut sebagai sinyal dari benang merah takdir.
Menurut data dari Pew Research Center, kepercayaan terhadap soulmate atau jodoh yang sudah ditentukan meningkat di kalangan generasi muda, terutama mereka yang mencari makna dalam relasi di era digital ini.
Jadi, apakah Anda percaya bahwa setiap pertemuan sudah ditentukan dan dihubungkan oleh benang merah yang tak kasat mata? Mungkin saja, jodoh Anda sudah terhubung sejak lama—hanya menunggu waktu untuk bertemu. (KS06)