Jumat, 12 Juni 2026

Silent Treatment: Silent Killer Hubungan, Ini Cara Bijak Menghadapinya

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Minggu, 6 April 2025 | 11:58 WIB
Ilustrasi silent treatment. (Foto: Unsplash/Gama Films)
Ilustrasi silent treatment. (Foto: Unsplash/Gama Films)

KLIKSOLONEWS.COM - Dalam hubungan interpersonal, diam tak selalu berarti emas. Fenomena silent treatment atau perlakuan diam sering kali disalahartikan sebagai bentuk penenangan diri.

Padahal, dalam banyak kasus, diam justru menjadi senjata pasif-agresif yang bisa menghancurkan komunikasi dan memperkeruh hubungan, baik itu dalam relasi romantis, pertemanan, hingga keluarga.

Silent treatment adalah bentuk komunikasi non-verbal di mana seseorang memilih untuk tidak merespons lawan bicaranya, entah karena marah, kecewa, atau ingin menghindari konflik. Meskipun terlihat sepele, tindakan ini sebenarnya bisa berdampak buruk secara emosional, terutama bila terjadi secara berulang.

Psikolog menyebutkan bahwa perilaku ini sering digunakan sebagai mekanisme kontrol atau hukuman emosional terhadap orang lain. Alih-alih menyelesaikan masalah, diam justru menciptakan kebingungan, kecemasan, dan jarak emosional yang melemahkan ikatan hubungan.

Dalam studi yang diterbitkan oleh Journal of Social and Personal Relationships, perlakuan diam secara konsisten dikaitkan dengan stres emosional dan bahkan bisa memicu gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang.

Banyak alasan mengapa seseorang memilih silent treatment mulai dari menghindari konflik, kesulitan mengungkapkan emosi, hingga sebagai bentuk manipulasi untuk mendapatkan pengakuan atas kesalahan orang lain. Namun apapun alasannya, membungkam komunikasi bukanlah solusi yang sehat.

Menghadapi silent treatment membutuhkan pendekatan yang tenang dan penuh empati. Penting untuk tidak terpancing emosi dan justru berusaha menciptakan ruang dialog ketika suasana sudah kondusif.

Mengajukan pertanyaan terbuka, menetapkan batasan, dan mengungkapkan perasaan secara asertif bisa menjadi langkah awal menuju pemulihan komunikasi. Bila perlu, bantuan profesional seperti konselor atau psikolog dapat membantu menemukan akar masalah yang lebih dalam.

Di era modern, ketika komunikasi bisa dilakukan hanya dalam satu klik, membiarkan hubungan membeku karena diam adalah pilihan yang merugikan.

Silent treatment bukan hanya soal diam, tapi tentang bagaimana seseorang mengekspresikan kekesalan tanpa menyelesaikannya. Mengganti diam dengan dialog adalah cara terbaik menjaga hubungan tetap sehat dan tumbuh.

Jadi, daripada memelihara luka dalam senyap, mari belajar berbicara dengan jujur, karena dalam hubungan, suara adalah jembatan, bukan tembok. (KS06)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X