Sabtu, 13 Juni 2026

Tradisi Sungkem saat Lebaran: Makna, Ucapan, dan Adab dalam Bahasa Jawa

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Senin, 31 Maret 2025 | 12:56 WIB
Tradisi sungkeman saat Lebaran sudah ada sejak dahulu dan dimaknai sebagai momen penghapusan kesalahan. (Foto: PInterest)
Tradisi sungkeman saat Lebaran sudah ada sejak dahulu dan dimaknai sebagai momen penghapusan kesalahan. (Foto: PInterest)

KLIKSOLONEWS.COM - Lebaran atau Hari Raya Idulfitri menjadi momentum penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya suku Jawa, untuk menjalankan tradisi sungkem.

Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan permohonan maaf yang dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang tua atau mereka yang lebih dihormati.

Sungkem bukan sekadar bersalaman, tetapi juga dilakukan dengan sikap bersimpuh seraya mengucapkan kata-kata permohonan maaf yang sarat makna.

Sungkem dalam budaya Jawa memiliki makna mendalam. Selain sebagai simbol penghormatan, sungkem juga merupakan perwujudan rasa rendah hati serta bentuk bakti kepada orang tua dan leluhur.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman kerajaan Jawa dan tetap lestari hingga kini sebagai bagian dari budaya yang melekat dalam perayaan Idulfitri.

Dr. Syafi’i, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama pada BMBPSDM Kemenag, menekankan bahwa sungkem mencerminkan filosofi ajaran Islam tentang silaturahmi dan pentingnya memelihara hubungan baik dengan sesama.

"Sungkem bukan hanya sekadar formalitas Lebaran, tetapi juga simbol ketulusan hati dalam meminta maaf dan mempererat hubungan kekeluargaan," ujar Syafi’i.

Dalam prosesi sungkem, kata-kata yang diucapkan juga menjadi bagian penting. Biasanya, bahasa Jawa yang digunakan adalah bahasa kromo inggil atau bahasa halus, sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Berikut beberapa contoh ucapan sungkem dalam bahasa Jawa halus yang sering digunakan:

  • Dalem ngaturaken wilujeng Idul Fitri 1446 Hijriyah. Nyuwun agengipun pangaksami, mugi-mugi kito kanugrahan jatining fitrah saking Gusti Ingkang Makaryo Jagad. (Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga kita diberikan berkah fitri dari Tuhan Yang Maha Kuasa).

  • Ngaturaken sugeng riyaden kagem Bapak/Ibu, nyuwun agunging pangapunten sedoyo kalepatan kula, mugi-mugi panjenengan kerso dipun pangapunten sedoyo kalepatan kula. (Saya ucapkan selamat hari raya untuk Bapak/Ibu, mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya. Semoga Bapak/Ibu berkenan memaafkan kesalahan saya).

  • Kepareng matur Bapak/Ibu, kula ngaturaken sugeng riyadi, mugi-mugi sedaya kalepatan saged dipun lebur ing dinten suci menika. (Mohon izin Bapak/Ibu, saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, semoga semua kesalahan dapat dihapuskan di hari yang suci ini).

  • Ngaturaken sembah pangabekti kula dumateng Bapak/Ibu. Nyuwun pangapunten menawati wonten kalepatan anggenipun matur ugi lampah kulo. Mugi-mugi sedoyo dosa saget linebur ing dinten riyadin puniko. (Saya sampaikan rasa hormat kepada Bapak/Ibu. Saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam berucap dan bertingkah laku. Semoga semua dosa dapat diampuni di hari raya ini).

  • Kula ngaturaken sembah pangabekti kula dumateng Bapak/Ibu, nyuwun pangapunten menawi wonten kalepatan ingkang dipun sengaja punapa mboten, kula nyuwun agenge pangapunten. (Saya menghaturkan bakti kepada Bapak/Ibu, mohon maaf jika ada kesalahan baik yang disengaja ataupun tidak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya).


Di era modern ini, tradisi sungkem tetap dipertahankan sebagai warisan budaya yang mempererat hubungan kekeluargaan. Meski teknologi memungkinkan silaturahmi dilakukan secara virtual, esensi dari sungkem tetap menjadi bagian yang tak tergantikan dalam perayaan Lebaran.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. (KS06)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X