JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh, tetapi juga momentum bagi umat Islam untuk kembali kepada fitrahnya. Makna Idulfitri sebagai hari kesucian mengingatkan manusia untuk kembali kepada nilai-nilai ketuhanan, sosial, dan moralitas yang sejati.
Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama pada BMBPSDM Kemenag, Syafi'i, menegaskan Idulfitri bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi lebih dari itu, merupakan refleksi dari perjalanan spiritual selama Ramadhan.
“Puasa sebulan penuh adalah media untuk mengembalikan manusia kepada jati dirinya, yaitu manusia yang bertuhan, bersosial, berbudaya, dan bermoral. Idulfitri adalah momentum untuk mempertahankan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Syafi'I yang dikutip dari laman resmi Kemenag.
Selain menjadi ajang refleksi spiritual, Idulfitri juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan merajut kedamaian di tengah masyarakat. Dalam Islam, kedamaian bukan sekadar konsep, tetapi sebuah prinsip hidup yang harus diterapkan dalam hubungan sosial.
“Islam berasal dari akar kata s-l-m yang berarti damai, selamat, dan berserah diri. Dengan demikian, perayaan Idulfitri juga menjadi ajang bagi umat Islam untuk memperkuat tali persaudaraan, menghapus perbedaan, dan merajut kebersamaan,” lanjut Syafi'i.
Tradisi Halal Bihalal yang berkembang di Indonesia adalah salah satu bentuk manifestasi pesan damai dalam Islam. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah pada tahun 1948 untuk menyatukan kembali para tokoh politik yang berseteru.
Hingga kini, Halal Bihalal tetap menjadi tradisi khas Idulfitri yang berakar kuat dalam budaya bangsa.
Salah satu ajaran Islam yang kental dalam perayaan Idulfitri adalah semangat berbagi dan silaturahmi. Umat Islam dianjurkan untuk menebarkan salam, memaafkan kesalahan, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.
“Agama mengajarkan untuk menyambung silaturahmi, maka Idulfitri menjadi momentum penting bagi kita semua untuk menebarkan pesan damai. Tidak ada lagi rasa permusuhan dan egoisme, tetapi kebersamaan dan kepedulian,” tambah Syafi'i.
Dalam konteks sosial, tradisi saling mengunjungi, berbagi hidangan, dan saling memaafkan menjadi ekspresi dari rasa syukur dan kebersamaan setelah satu bulan berpuasa. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk menebarkan salam, memberi makan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Dengan semangat Idul Fitri, umat Islam diharapkan dapat terus menjaga nilai-nilai ketuhanan, sosial, dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. (KS06)