Sabtu, 13 Juni 2026

Sejarah Tradisi Berbagi Fitrah Lebaran Menyebar Kebahagiaan

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Minggu, 30 Maret 2025 | 11:09 WIB
Di Indonesia, tradisi memberikan fitrah saat lebaran identik dengan uang baru bagi sanak saudara. (Foto: Pinterest)
Di Indonesia, tradisi memberikan fitrah saat lebaran identik dengan uang baru bagi sanak saudara. (Foto: Pinterest)

KLIKSOLONEWS.COM - Tradisi berbagi fitrah saat Hari Raya Idulfitri telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia.

Bentuknya yang paling umum adalah pemberian uang dalam amplop, baik polos maupun berhias, kepada sanak saudara, anak-anak, atau mereka yang membutuhkan.

Namun, di balik kebiasaan ini, terdapat sejarah panjang yang telah berlangsung sejak zaman kekhalifahan Islam di berbagai belahan dunia.

Berbagi fitrah atau yang sering disebut sebagai "angpao Lebaran" bukanlah tradisi eksklusif masyarakat Indonesia.

Tradisi ini telah dilakukan sejak masa Kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara pada awal abad pertengahan.

Pada masa itu, pemerintah membagikan uang, pakaian, dan permen kepada rakyat di hari pertama Idulfitri sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan. Beberapa abad kemudian, di era Kekaisaran Ottoman, tradisi ini berkembang menjadi bagian dari silaturahmi keluarga, di mana anggota keluarga yang lebih tua memberikan hadiah kepada yang lebih muda.

Dalam perkembangannya, tradisi ini tidak hanya bertahan di negara-negara Timur Tengah dan Afrika, tetapi juga menyebar luas ke Asia, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Di beberapa negara seperti Turki dan Mesir, pemberian uang Lebaran masih dilakukan dalam bentuk yang mirip dengan zaman kekhalifahan, dengan tambahan bingkisan atau hadiah lainnya.

Di Indonesia sendiri, kebiasaan ini semakin mengakar seiring dengan perkembangan sosial dan ekonomi. Amplop Lebaran menjadi simbol kebahagiaan dan berbagi rezeki, terutama bagi anak-anak yang antusias menyambut pemberian dari orang tua atau kerabat mereka.

Tak jarang, tradisi ini juga menjadi bagian dari ajang silaturahmi, di mana keluarga yang berkumpul saling berbagi cerita dan kebahagiaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Lebih dari sekadar kebiasaan, berbagi fitrah saat Lebaran mengandung nilai-nilai sosial yang mendalam. Tradisi ini mengajarkan tentang keikhlasan, kepedulian, dan pentingnya berbagi rezeki tanpa memandang besar kecilnya pemberian.

Di tengah modernisasi, esensi dari tradisi ini tetap relevan sebagai bentuk nyata dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya berbagi dengan sesama.

Dalam era digital saat ini, berbagi fitrah pun mulai beradaptasi dengan teknologi. Banyak masyarakat yang kini mengirimkan uang Lebaran melalui dompet digital atau transfer bank, menggantikan cara konvensional dengan amplop fisik. Meski demikian, semangat dan makna dari tradisi ini tetap terjaga.

Dengan segala perkembangan dan adaptasinya, berbagi fitrah Lebaran terus menjadi bagian dari identitas umat Islam di seluruh dunia. (KS06)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X