Jumat, 12 Juni 2026

Sudahi Overthinking! Ini Cara Move On Tanpa Closure

Photo Author
Administrator, KlikSoloNews.com
- Sabtu, 15 Maret 2025 | 09:39 WIB
Ilustrasi Closure, yang berarti ‘penutupan,’ adalah proses memahami alasan di balik berakhirnya sebuah hubungan, sehingga tidak ada lagi kebingungan atau ketertarikan yang tersisa. (Foto: Unsplash/Brett Jordan)
Ilustrasi Closure, yang berarti ‘penutupan,’ adalah proses memahami alasan di balik berakhirnya sebuah hubungan, sehingga tidak ada lagi kebingungan atau ketertarikan yang tersisa. (Foto: Unsplash/Brett Jordan)

KLIKSOLONEWS.COM - Di era digital, hubungan asmara semakin kompleks. Ghosting, breadcrumbing, dan benching menjadi istilah yang akrab di telinga Gen Z dalam dunia percintaan. Namun, di tengah tren tersebut, satu konsep yang tak kalah penting adalah closure.

Benarkah closure adalah kunci utama untuk benar-benar move on, atau hanya sekadar mitos yang membuat orang terjebak dalam masa lalu?

Closure, yang berarti ‘penutupan,’ adalah proses memahami alasan di balik berakhirnya sebuah hubungan, sehingga tidak ada lagi kebingungan atau ketertarikan yang tersisa. Banyak yang percaya bahwa tanpa closure, seseorang akan kesulitan untuk membuka hati bagi hubungan baru.

Closure itu penting karena memberi kita kesempatan untuk menerima realita dan belajar dari pengalaman. Namun, closure tidak selalu harus datang dari mantan. Kadang, kita perlu menciptakan closure sendiri,” ujar Psikolog Klinis, Andini Putri sebagaimana dikutip dari sebuah sumber.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Journal of Social and Personal Relationships, 67 persen orang yang mendapatkan closure lebih cepat move on dibandingkan yang tidak mendapat penjelasan sama sekali.

Beberapa manfaat closure antara lain membantu memahami alasan perpisahan, mencegah overthinking, menghindari ekspektasi palsu, dan mengurangi luka emosional. Mengetahui penyebab berakhirnya hubungan membantu seseorang belajar dari kesalahan.

Tanpa closure, seseorang bisa terus bertanya-tanya dan sulit melanjutkan hidup. Closure juga membantu seseorang memahami bahwa hubungan telah benar-benar selesai dan dengan memahami alasan perpisahan, seseorang bisa lebih cepat berdamai dengan masa lalu.

Tidak semua hubungan bisa diakhiri dengan closure yang jelas. Banyak kasus di mana salah satu pihak menghilang tanpa penjelasan, meninggalkan pertanyaan yang tidak terjawab.

Fenomena ghosting, misalnya, menjadi salah satu alasan mengapa closure terkadang sulit didapat.

“Tidak semua orang bisa atau mau memberikan closure. Dan menunggu closure dari orang lain bisa memperpanjang proses penyembuhan. Terkadang, kita harus menciptakan closure kita sendiri dengan menerima kenyataan dan melanjutkan hidup,” tambah Andini.

Sebagian Gen Z mulai memahami bahwa closure tidak selalu harus berbentuk kata-kata perpisahan yang sempurna.

Menulis surat untuk diri sendiri, berbicara dengan teman terdekat, atau bahkan memblokir media sosial mantan bisa menjadi bentuk closure yang efektif.

Closure memang bisa membantu seseorang move on, tetapi bukan satu-satunya cara. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menerima kenyataan dan menemukan kebahagiaan di luar hubungan yang telah berakhir.

Jadi, apakah closure adalah kebutuhan atau sekadar mitos? Jawabannya ada pada cara masing-masing individu memproses perpisahan dan melangkah maju. (KS06)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X