“Kami menuntut pemberhentian sementara MBG karena dinilai membebani APBN dan mengganggu fokus ekonomi nasional,” ujar Arif kepada wartawan.
Selain itu, massa juga menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai belum optimal dalam menangani stabilitas ekonomi nasional.
Untuk isu lokal, mahasiswa menyoroti permasalahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo serta kebijakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk tempat ibadah dan sekolah swasta.
Baca Juga: Polresta Surakarta Gelar Nobar Piala Dunia 2026 Bersama Warga, Pererat Sinergi Polri dan Masyarakat
Sejumlah anggota DPRD Kota Solo kemudian menemui massa aksi dan berdialog langsung dengan perwakilan mahasiswa. Aspirasi yang disampaikan diterima dan akan diteruskan ke pemerintah pusat.
Ketua DPRD Solo, Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti seluruh aspirasi mahasiswa sesuai kewenangan yang dimiliki.
“Kami akan menyampaikan tuntutan ini kepada DPR RI dan juga kepada Wali Kota untuk diteruskan ke pemerintah pusat,” ujar Budi.
Ia juga menambahkan bahwa DPRD Solo bersama Pemkot akan melakukan pengawasan terhadap program MBG dan KDMP.
Menjelang akhir aksi, massa mulai membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB. Sebelum meninggalkan lokasi, sempat terjadi pembakaran ban dan spanduk di tengah Jalan Adi Sucipto yang sempat menutup akses lalu lintas.
Meski demikian, situasi tetap terkendali hingga massa membubarkan diri secara bertahap. (*)