SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengajukan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk lahan pertanian yang terdampak banjir di sejumlah daerah. Klaim tersebut mencakup wilayah Kudus, Pati, Grobogan, serta penanganan khusus untuk Jepara.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa proses pendataan lahan terdampak telah dilakukan dan saat ini seluruh data klaim telah diserahkan kepada PT Asuransi Jasindo untuk tahap validasi.
“Data lahan padi terdampak banjir di Kudus, Pati, dan Grobogan sudah kami input melalui aplikasi SIAP sebagai syarat pengajuan AUTP. Selanjutnya akan diverifikasi oleh Jasindo bersama petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan di masing-masing kabupaten,” ujar Fransisco di Semarang, Senin (19/2/2026).
Ia menjelaskan, proses verifikasi klaim biasanya berlangsung sekitar 15 hari setelah kejadian atau pelaporan. Apabila dinyatakan sesuai, klaim asuransi akan segera direalisasikan kepada kelompok tani yang terdampak.
Berdasarkan data sementara, di Kabupaten Kudus terdapat sekitar 315,49 hektare lahan padi yang terdampak banjir. Luasan tersebut tersebar di Kecamatan Jati, Kaliwungu, Mejobo, Undaan, dan Jekulo. Sementara di Kabupaten Pati, total lahan terdampak mencapai 672,12 hektare, yang berada di Kecamatan Jakenan dan Gabus. Adapun di Kabupaten Grobogan, banjir merendam sekitar 83,3 hektare sawah di Kecamatan Brati.
“Umumnya yang dapat diganti melalui asuransi adalah tanaman padi yang sudah mendekati masa panen dan tidak bisa diselamatkan. Seperti di Kudus, sebagian besar sawah memang sudah siap panen,” jelasnya.
Fransisco menambahkan, dalam data AUTP Jawa Tengah tahun 2025, terdapat empat daerah yang masuk kategori rawan dampak perubahan iklim dan bencana, yakni Demak, Pati, Kudus, dan Grobogan. Untuk Kabupaten Jepara, mekanisme penanganannya berbeda karena belum tercatat dalam skema AUTP 2025.
“Jepara tetap kami data, tetapi penanganannya bukan melalui asuransi. Kami mengusulkan bantuan penggantian benih padi beserta pupuk untuk mendukung tanam ulang lahan yang terdampak banjir,” ungkapnya.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi telah menginstruksikan seluruh kepala daerah yang wilayahnya terdampak cuaca ekstrem agar segera mengajukan klaim asuransi gagal panen sebagai bentuk perlindungan terhadap petani.
“Untuk daerah seperti Kudus, Pati, dan Jepara diminta segera mengajukan terkait asuransi gagal panen,” ujar Gubernur Ahmad Luthfi saat kegiatan penandatanganan Komitmen Bersama Pencapaian Target Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah 2026 di Kota Surakarta.
Menurutnya, cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi memang sulit dihindari. Namun dampaknya dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan dan kebijakan mitigasi, salah satunya dengan alokasi anggaran AUTP. Pada tahun 2026, Pemprov Jawa Tengah menganggarkan sekitar Rp1,8 miliar untuk melindungi lahan pertanian seluas 10.449 hektare.
Ahmad Luthfi menegaskan, langkah ini penting agar target ketahanan pangan dan swasembada pangan Jawa Tengah yang telah dicanangkan pada 2026 tetap tercapai meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem. (Ks2)