Jumat, 12 Juni 2026

Konflik Internal Keraton Surakarta, KGPH Puger Ingatkan Pentingnya Musyawarah dan Menjaga Marwah Budaya

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Selasa, 20 Januari 2026 | 10:05 WIB
Konflik Internal Keraton Surakarta, KGPH Puger Ingatkan Pentingnya Musyawarah dan Menjaga Marwah Budaya (Kliksolonews/dok)
Konflik Internal Keraton Surakarta, KGPH Puger Ingatkan Pentingnya Musyawarah dan Menjaga Marwah Budaya (Kliksolonews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Konflik internal yang kembali mencuat di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat menuai keprihatinan berbagai kalangan. Ketegangan yang melibatkan sejumlah unsur di dalam keraton dinilai tidak hanya berdampak pada internal keluarga besar Kasunanan, tetapi juga berpotensi merusak citra keraton sebagai pusat pelestarian adat dan budaya Jawa.


Salah satu Putra Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XII, KGPH Puger, menyampaikan pandangannya terkait situasi tersebut. Ia menegaskan bahwa konflik yang berlarut-larut dan terbuka ke ruang publik justru akan merugikan keraton secara keseluruhan, terutama di mata masyarakat yang selama ini menempatkan keraton sebagai simbol kearifan budaya.


“Keraton Surakarta bukan sekadar bangunan atau simbol kekuasaan, melainkan pusat sejarah dan kebudayaan. Jika konflik terus dipertontonkan ke publik, yang dirugikan bukan hanya keluarga internal, tetapi juga nilai-nilai luhur keraton,” ujar KGPH Puger, Senin (19/1).


Menurutnya, perbedaan pendapat di lingkungan keraton merupakan hal yang wajar. Namun, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui musyawarah dengan menjunjung tinggi tata krama, unggah-ungguh, serta norma adat yang telah diwariskan oleh para leluhur.


KGPH Puger menyayangkan apabila persoalan internal disikapi dengan cara-cara yang justru menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Ia menilai, keraton sejatinya telah memiliki aturan, pakem adat, dan mekanisme penyelesaian masalah yang semestinya dijadikan rujukan bersama.


“Keraton memiliki tata aturan sendiri. Semua pihak seharusnya kembali pada pakem tersebut, bukan mempertajam konflik karena emosi atau kepentingan sesaat,” tegasnya.


Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa Keraton Surakarta Hadiningrat memiliki tanggung jawab moral sebagai teladan dalam menjaga keharmonisan sosial dan budaya. Konflik yang berkepanjangan dikhawatirkan dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap peran keraton sebagai payung kebudayaan, baik di tingkat lokal maupun nasional.


“Keraton seharusnya menjadi sumber keteduhan dan kebijaksanaan, bukan sebaliknya. Jika masyarakat mulai jenuh melihat konflik, ini menjadi alarm bagi kita semua untuk segera berbenah,” ungkapnya.


KGPH Puger juga mengajak seluruh elemen keraton, mulai dari keluarga besar, sentana dalem, hingga abdi dalem, untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif. Menurutnya, merawat warisan leluhur merupakan tanggung jawab bersama agar martabat keraton tetap terjaga.


Ia berharap ke depan semua pihak dapat menahan diri dan lebih mengedepankan dialog yang konstruktif demi kepentingan keraton sebagai lembaga adat, bukan demi kepentingan kelompok maupun individu tertentu.


“Yang terpenting adalah keraton tetap lestari, tetap dihormati, dan tetap menjadi pusat kebudayaan. Itu amanat leluhur yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (KS2)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X