SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bersiap menerapkan uji coba sistem kerja work from anywhere (WFA) atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi efisiensi anggaran menyusul adanya penyesuaian dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengatakan, simulasi WFA direncanakan mulai diuji coba pada hari Rabu dan akan diberlakukan secara bertahap di sejumlah unit kerja tertentu.
“Bagian organisasi sudah menyampaikan, nanti kita akan lakukan uji coba di hari Rabu. Tidak langsung semuanya, tapi di pos-pos dan unit tertentu. Ini masih tahap trial,” kata Respati di Balai Kota Solo, Senin (12/1/2026).
Respati menegaskan, kebijakan tersebut tidak akan mengganggu pelayanan publik. ASN yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti petugas puskesmas dan layanan teknis lapangan, dipastikan tetap bekerja secara langsung di kantor.
“Pelayanan publik tidak boleh terganggu. Puskesmas dan layanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat tidak WFA. Yang bisa WFA adalah pekerjaan yang secara fungsional memang bisa dikerjakan di luar kantor,” jelasnya.
Menurut Respati, penentuan pegawai yang mengikuti WFA tidak didasarkan pada jumlah atau persentase, melainkan pada jenis dan fungsi pekerjaan masing-masing OPD.
Penerapan sistem kerja fleksibel ini juga akan berada di bawah pengawasan ketat Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM). Pemkot Solo telah menyiapkan mekanisme kontrol untuk memastikan ASN tetap disiplin meski bekerja di luar kantor.
“Pengawasan tetap ada. Mulai dari jam kerja, laporan aktivitas, hingga bukti bekerja. Lokasinya juga harus masih di wilayah Surakarta. Kalau ketahuan nongkrong tidak jelas, tentu ada sanksi,” tegas Respati.
Ia menambahkan, Pemkot Solo sudah memiliki sistem pengawasan kepegawaian yang mampu mendeteksi kedisiplinan ASN, termasuk potensi pelanggaran selama masa uji coba WFA.
Selain untuk efisiensi anggaran, kebijakan ini juga diharapkan berdampak positif terhadap sektor UMKM lokal. Dengan bekerja dari luar kantor, ASN didorong untuk beraktivitas di ruang-ruang ekonomi warga, seperti warung atau sentra UMKM.
“Tujuannya bukan hanya efisiensi, tapi juga keberpihakan pada UMKM. Teknisnya nanti diatur oleh bagian organisasi, yang jelas ini kita lakukan seefektif dan seefisien mungkin,” ujarnya.
Respati berharap, penerapan WFA dapat menekan pengeluaran operasional Pemkot, mulai dari konsumsi listrik, penggunaan AC, kertas, BBM, hingga operasional kendaraan dinas.
“Kalau bisa AC diatur maksimal 25 derajat, penggunaan kertas ditekan, BBM dan mobil dinas lebih efisien. Semua itu sedang kami hitung secara detail agar penghematan benar-benar terasa,” pungkasnya.
Uji coba WFA ini ditargetkan mulai berjalan pada awal 2026 dan akan dievaluasi secara berkala sebelum diterapkan lebih luas di lingkungan Pemkot Solo. (KS2)