Jumat, 12 Juni 2026

Kolaborasi Seni Dunia Warnai Penutupan SIPA 2025 di Pamedan Mangkunegaran

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Minggu, 7 September 2025 | 12:30 WIB
Kolaborasi Seni Dunia Warnai Penutupan SIPA 2025 di Pamedan Mangkunegaran. (KlikSoloNews/dok SIPA)
Kolaborasi Seni Dunia Warnai Penutupan SIPA 2025 di Pamedan Mangkunegaran. (KlikSoloNews/dok SIPA)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COMSolo International Performing Arts (SIPA 2025) resmi menutup rangkaian festival seni internasional selama tiga hari dengan pertunjukan spektakuler di Pamedan Pura Mangkunegaran, Sabtu 6 September 2025.

Festival yang telah berlangsung sejak 4 September ini berhasil menarik ribuan penonton, baik dari dalam maupun luar negeri.

Selama tiga hari penuh, SIPA 2025 menghadirkan kolaborasi seni lintas budaya dari berbagai negara. Perpaduan seni tari, musik, hingga teater ditampilkan di panggung terbuka, menciptakan suasana meriah sekaligus memperkuat posisi Kota Solo sebagai pusat pertunjukan seni dunia.

Malam puncak SIPA 2025 menghadirkan enam penampilan istimewa. Dibuka oleh Samohung dari Trenggalek dengan karya “The Human Boar”, yang menyoroti isu lingkungan melalui tari kontemporer.

Kemudian, Langenpraja Mangkunegaran tampil dengan “Taman Soka”, menampilkan kisah klasik Rama dan Sinta. Dari Korea Selatan, Dongbaek Circus membawakan “Dongbaek Carnival”, memadukan musik klasik modern dengan tradisi Gugak.

Delegasi Spanyol, Colectivo Glovo, menghadirkan karya “Alleo” dengan gerakan puitis yang menggambarkan kekuatan dan kesepian manusia. Masih dari Korea Selatan, POD Dance Project tampil dengan “How’s Open”, yang memadukan teknik panggung dengan koreografi energik.

Sebagai penutup, Duo Etnicholic asal Malang menampilkan “Cahaya Abadi Leluhur” yang terinspirasi dari kekayaan budaya nusantara. Penampilan tersebut ditutup dengan kembang api meriah, menandai berakhirnya festival.

Closing ceremony ditandai dengan pemukulan kenong oleh Basuki Teguh Yuwono, S.Sn., M.Sn., Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, bersama tokoh penting lainnya.

Dalam sambutannya, Basuki menegaskan bahwa SIPA adalah ruang kolaborasi seni yang mempertemukan budaya lokal dan internasional, sekaligus menjadi wadah kreatif bagi generasi muda, khususnya Gen Z.

“Semoga SIPA di tahun-tahun mendatang semakin sukses dan memberikan dampak luas bagi kemajuan kebudayaan Indonesia,” ujarnya.

Selain menghadirkan hiburan seni bertaraf internasional, SIPA 2025 juga memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Ribuan penonton dari berbagai kota dan negara turut menyumbang peningkatan kunjungan wisatawan di Kota Solo.

Dengan berakhirnya SIPA 2025, festival ini kembali menegaskan posisinya sebagai ajang pertukaran budaya yang memperkuat jati diri Solo sebagai Kota Budaya.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X