Sabtu, 13 Juni 2026

Baliho Keraton Surakarta Roboh Diterjang Angin Kencang, Sebuah Isyarat Alam?

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 4 April 2025 | 11:15 WIB
Sebelum (kiri) dan sesudah baliho ambruk . Baliho Keraton Surakarta Roboh Diterjang Anging Kencang, Sebuah Isyarat Alam? (KlikSoloNews/dok HarianKota)
Sebelum (kiri) dan sesudah baliho ambruk . Baliho Keraton Surakarta Roboh Diterjang Anging Kencang, Sebuah Isyarat Alam? (KlikSoloNews/dok HarianKota)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Peristiwa alam tak jarang menjadi ruang refleksi dalam tradisi masyarakat Jawa.

Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Solo pada Kamis 3 April 2025, petang, tidak hanya menumbangkan baliho milik Keraton Surakarta, tetapi juga menyisakan pertanyaan mendalam tentang makna di baliknya.

Baliho yang roboh itu berdiri di depan gapura Gladag, pintu masuk utama menuju kawasan keraton, dan selama ini digunakan sebagai media pengumuman agenda budaya dan prosesi adat, termasuk ucapan Idulfitri dan informasi tentang Hajad Dalem Garebeg Pasa.

Namun bagi sebagian kalangan, kejadian ini bukan semata insiden akibat cuaca ekstrem. Dalam perspektif kebudayaan Jawa, peristiwa seperti ini bisa dimaknai sebagai bentuk tut wuri alam—pesan atau peringatan dari alam kepada manusia.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah, atau akrab disapa Gusti Moeng, menyoroti peristiwa ini dari sisi spiritual dan filosofis. Menurutnya, alam tak pernah keliru dalam menyampaikan isyarat.

“Kami menyikapi kejadian ini sebagai fenomena alam yang seringkali membawa pesan bagi kita semua,” tutur Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta itu dilansir HarianKota, jejaring KlikSoloNews.

Ia juga menegaskan pentingnya kepekaan terhadap pertanda-pertanda semacam ini, terlebih dalam konteks kehidupan adat dan budaya.

“Alam selalu memberikan keseimbangan. Jika ada yang menyimpang, pasti akan ada teguran. Kita, wong Jawa, mungkin tidak selalu percaya, tapi juga tidak boleh menyepelekan (aja maido),” imbuhnya.

Tumbangnya baliho, yang memuat gambar keluarga raja dan informasi keraton, bisa dianggap sebagai simbol perlunya instrospeksi dan penyelarasan di tubuh keraton sendiri.

Gusti Moeng menyatakan, ini bisa menjadi pengingat bagi mereka yang belum berjalan seirama dalam menjaga marwah dan tradisi keraton.

“Semoga ini menyadarkan semua orang yang tidak melakukan keselarasan di keraton, supaya ke depan keraton bisa lebih baik,” ujarnya penuh harap.

Dalam filosofi Jawa, keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta adalah kunci kehidupan. Ketidakseimbangan di salah satu sisi dipercaya akan menimbulkan reaksi dari yang lain—dan dalam konteks ini, alam dianggap sedang 'berbicara'. (KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X