Jumat, 12 Juni 2026

Keraton Solo Gelar Ritual Kuno Mahesa Lawung, Simbol Harmoni Alam dan Manusia

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 31 Oktober 2024 | 14:05 WIB
Keraton Solo Gelar Ritual Kuno Mahesa Lawung, Simbol Harmoni Alam dan Manusia. (KlikSoloNews/dok)
Keraton Solo Gelar Ritual Kuno Mahesa Lawung, Simbol Harmoni Alam dan Manusia. (KlikSoloNews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi kuno Mahesa Lawung, sebuah ritual yang sarat makna dan telah diwariskan secara turun-temurun.

Upacara yang digelar pada Kamis 31 Oktober 2024 ini bertujuan untuk memohon keselamatan bagi seluruh umat manusia dan menjaga keharmonisan alam semesta.

Dalam acara ini, sesaji yang terdiri dari berbagai simbol diarak mengelilingi Keraton Solo dan berhenti sejenak di Kori Widjilkalih untuk memanjatkan doa bersama.

Setelah itu, arak-arakan dilanjutkan menuju Alas Krendowahono dengan menggunakan beberapa kendaraan secara rombongan.

Pengageng Parentah Keraton Solo, KGPH Dipokusumo, menjelaskan bahwa tradisi Wilujengan Nagari Sesaji Mahesa Lawung merupakan warisan turun temurun sejak masa Kerajaan Demak. Sebelumnya, acara ini dikenal dengan nama Sesaji Raja Weda dan Sesaji Raja Suya.

“Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak sebelum masuknya agama-agama ke Indonesia, dan pada masa Kerajaan Demak, acaranya sangat berbeda dari kebiasaan dalam Islam,” tuturnya.

Dipokusumo melanjutkan bahwa acara ini diadakan pada masa ketidakstabilan kerajaan, yang mengakibatkan keresahan di masyarakat.

Sunan Kalijaga kemudian mencoba memperbaiki dengan memasukkan simbol-simbol Islam ke dalam tradisi ini,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa pelestarian tradisi ini tidak hanya bertujuan menjaga budaya, tetapi juga merawat keberagaman dalam beragama.

“Ada perpaduan dari Islam, Kejawen, dan agama Hindu-Buddha, yang mencerminkan moderasi beragama,” jelasnya.

Dipokusumo berharap acara ini dapat memberikan manfaat bagi keselamatan negara. Acara ini melibatkan sepuluh simbol dalam arak-arakan, yang meliputi unsur-unsur bumi, makanan, gunung, laut, dan tanaman.

Juga ada simbol hewan, khususnya kerbau, yang menjadi makna di balik sebutan Mahesa Lawung. Selain itu, simbol-simbol tersebut berkaitan dengan pemikiran, iklim, keyakinan, dan yang terpenting, ketuhanan.

“Semua itu merupakan doa untuk lingkungan hidup dan keselarasan,” kata Dipokusumo.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X