SOLO, KLIKSOLONEWS.COM — MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Solo Seri 2 musim 2025–2026 resmi menobatkan para juara pada partai final yang digelar di Lapangan Kota Barat, Minggu (15/2/2026). SD Kristen Manahan Surakarta sukses mempertahankan gelar di kategori usia (KU) 12, sedangkan MIN 9 Sragen keluar sebagai kampiun KU 10.
Pada final KU 12, SD Kristen Manahan tampil dominan saat menghadapi MIN 9 Sragen. Tim asuhan Kurniawan Ardiyanto menutup laga dengan kemenangan meyakinkan 7-2.
Sejak awal pertandingan, SD Kristen Manahan langsung mengambil inisiatif serangan. Ika Wonda membuka keunggulan pada menit ketiga melalui tembakan keras. Penyerang andalan tersebut kemudian tampil gemilang dengan mencetak sejumlah gol tambahan.
MIN 9 Sragen sempat memperkecil ketertinggalan lewat Andrea Fathin Nurusyifa. Namun agresivitas SD Kristen Manahan sulit dibendung. Hingga peluit akhir berbunyi, papan skor menunjukkan angka 7-2 untuk kemenangan wakil Surakarta tersebut.
Pelatih SD Kristen Manahan, Kurniawan Ardiyanto, menyebut kunci keberhasilan timnya terletak pada konsistensi latihan dan kekompakan pemain.
“Kami menekankan kebersamaan, baik di dalam maupun di luar lapangan. Dukungan sekolah dan orang tua juga sangat besar,” ujarnya.
Final KU 10 Berlangsung Ketat
Sementara itu pada partai final KU 10, MIN 9 Sragen tampil efektif saat menundukkan SDN 02 Malangjiwan dengan skor 3-0.
Gol pembuka dicetak Salsabilla Mustika Prasetyo yang memanfaatkan lemparan ke dalam rekannya. Di babak kedua, Salsabilla kembali menambah dua gol untuk memastikan kemenangan sekaligus mencatat hattrick.
Pemain yang juga menjadi top scorer dengan 46 gol tersebut mengaku lebih percaya diri berkat latihan rutin.
“Sekarang saya lebih yakin saat bertanding. Bermain sepak bola itu sangat menyenangkan,” kata Salsabilla.
Antusiasme Tinggi Sepak Bola Putri
Turnamen yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife ini diikuti 1.618 siswi dari 90 SD dan MI di Solo dan sekitarnya. Mereka terbagi dalam 64 tim KU 10 dan 85 tim KU 12.
Head Coach MLSC, Timo Scheunemann, menilai pembinaan sepak bola putri melalui jalur akar rumput sudah berada di arah yang tepat.
“Kita bersyukur sepak bola putri Indonesia sekarang memiliki sistem yang baik karena kita benar-benar memulai dari tingkat grassroot. Kita mencari pemain dari tiap daerah penyelenggaraan MLSC lalu melakukan penyaringan secara obyektif dan bertahap. Bukan hanya teridentifikasi, namun talenta-talenta yang ada bisa dikembangkan lewat turnamen seperti ini ditambah dengan berlatih di SSB,” kata Coach Timo.
Menurutnya, turnamen berjenjang seperti MLSC memungkinkan talenta muda tidak hanya teridentifikasi, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.