Jumat, 12 Juni 2026

Demi Jaga Nutrisi Atlet, Indonesia Operasikan Dapur Khusus di ASEAN Para Games 2025 Tailan

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Minggu, 18 Januari 2026 | 10:00 WIB
Pekerja memasak untuk kebutuhan menu makanan bagi kontingen NPC Indonesia di Chayada Garden & Resort, Nakhon Ratchasima, Thailand, Sabtu (17/1/2026). Dapur Sebanyak 900 porsi makanan disiapkan di dapur setempat setiap harinya selama penyelenggaraan ASEAN Para Games 2025 guna memenuhi asupan makanan bagi kontingen NPC Indonesia. NPC Indonesia/Yoma Times Suryadi
Pekerja memasak untuk kebutuhan menu makanan bagi kontingen NPC Indonesia di Chayada Garden & Resort, Nakhon Ratchasima, Thailand, Sabtu (17/1/2026). Dapur Sebanyak 900 porsi makanan disiapkan di dapur setempat setiap harinya selama penyelenggaraan ASEAN Para Games 2025 guna memenuhi asupan makanan bagi kontingen NPC Indonesia. NPC Indonesia/Yoma Times Suryadi

TAILAN, KLIKSOLONEWS.COM – Kontingen Indonesia mengoperasikan dapur khusus selama gelaran ASEAN Para Games 2025 di Tailan sebagai langkah strategis untuk menjamin kecukupan nutrisi atlet. Kebijakan ini diambil menyusul adanya keluhan atlet terkait kualitas konsumsi yang disediakan panitia penyelenggara.


Dapur khusus tersebut beroperasi di Chayada Garden House & Resort Hotel, Nakhon Ratchasima, dan mulai difungsikan sejak masa persiapan hingga berlangsungnya pertandingan ASEAN Para Games 2025 pada 20–26 Januari 2026.


Wakil Sekretaris Jenderal National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Rima Ferdianto, menjelaskan bahwa penyediaan dapur khusus merupakan bentuk antisipasi dari pengalaman pada ajang-ajang internasional sebelumnya.


“Fokus utama kami adalah pemenuhan nutrisi atlet. Dari pengalaman event sebelumnya, tidak semua atlet cocok dengan menu tuan rumah. Karena itu kami menyiapkan dapur sendiri agar asupan mereka tetap terjaga,” ujar Rima, Sabtu (17/1/2026).


Rima mengungkapkan, permasalahan konsumsi terjadi di sejumlah venue cabang olahraga. Perbedaan kualitas makanan antarlokasi memunculkan keluhan dari atlet, terutama terkait menu sarapan yang dinilai kurang memadai.


“Beberapa cabang olahraga melaporkan kualitas konsumsi yang kurang layak. Akhirnya dapur yang semula disiapkan untuk makan siang, kami operasikan juga untuk sarapan dengan menambah sekitar 300 porsi,” jelasnya.


Menurut Rima, kecukupan nutrisi di pagi hari menjadi faktor krusial bagi performa atlet saat bertanding. Kekurangan asupan, terutama sebelum pertandingan, dikhawatirkan berdampak langsung pada kondisi fisik dan stamina atlet.


“Kami tidak ingin atlet kehilangan performa hanya karena masalah konsumsi. Itu sebabnya distribusi makanan kami atur seoptimal mungkin,” imbuhnya.


Sementara itu, Head Chef kontingen Indonesia, Muhammad Shaban Farooq, menyebut dapur khusus tersebut memproduksi sekitar 900 porsi makanan setiap hari. Rinciannya, 300 porsi disiapkan untuk sarapan dan 600 porsi untuk makan siang.


Shaban menjelaskan, dirinya bertanggung jawab penuh dalam penyusunan menu, pemilihan bahan, hingga proses pengolahan makanan agar sesuai standar gizi, kebersihan, dan cita rasa yang dibutuhkan atlet.


“Setiap staf wajib menggunakan masker, sarung tangan, dan penutup kepala. Bahan mentah dan matang dipisahkan untuk mencegah kontaminasi,” ujar chef asal Pakistan tersebut.


Ia juga menegaskan pentingnya manajemen penyimpanan bahan makanan, terutama daging, yang harus disimpan pada suhu ideal di dalam freezer sebelum diolah.


Selain kebersihan, ketepatan waktu distribusi menjadi tantangan tersendiri. Proses memasak ratusan porsi sekaligus, dilanjutkan pengemasan dan pengiriman ke berbagai venue, harus dilakukan sesuai jadwal.


“Tantangan terbesarnya adalah waktu. Menyiapkan makanan untuk ratusan orang setiap hari membutuhkan konsentrasi dan stamina ekstra,” ungkap Shaban.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X