Sabtu, 13 Juni 2026

Kisah Pemuda Wonogiri Menembus Asian Youth Para Games Berkat Program Mendobrak Batas

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 11 Desember 2025 | 12:00 WIB
Kisah Pemuda Wonogiri Menembus Asian Youth Para Games Berkat Program Mendobrak Batas (Kliksolonews/dok. NPCI)
Kisah Pemuda Wonogiri Menembus Asian Youth Para Games Berkat Program Mendobrak Batas (Kliksolonews/dok. NPCI)








WONOGIRI, KLIKSOLONEWS.COM – Perjalanan Imam Nur Shaleh menuju pentas Asian Youth Para Games 2025 menjadi contoh nyata bagaimana sebuah kesempatan dapat mengubah hidup seseorang. Pemuda 17 tahun asal Jatisrono, Wonogiri, itu tak pernah membayangkan dirinya akan mengenakan seragam tim nasional, apalagi bertanding di ajang internasional.


Segalanya berawal pada 16 Mei 2025, saat ia mengikuti program pencarian atlet disabilitasMendobrak Batas” yang digelar National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) di GOR FKOR Universitas Sebelas Maret, Solo. Dari seleksi tersebut, Shaleh dinilai memiliki potensi dan memenuhi klasifikasi untuk menjadi atlet para angkat berat, sehingga masuk dalam pembinaan Program Jangka Panjang Atlet Potensial (PJPAP) NPCI Jawa Tengah.


Lima bulan lalu merupakan kali pertama Shaleh bersentuhan dengan olahraga angkat berat. Ia mengaku kehidupannya sebelumnya hanya berputar pada sekolah, bermain bersama teman, dan rutinitas rumah.


“Sebelum adanya program mendobrak batas, kegiatan saya ya hanya main sama teman-teman, bersekolah dan aktivitas rumahan saja. Tidak ada pikiran untuk menjadi seorang atlet, apalagi sampai bertanding di luar negeri,” ujarnya di Dubai Club For People of Determination, Rabu (10/12/25).


Perjalanan awalnya tentu tidak mudah. Latihan angkat berat membuat tubuhnya pegal-pegal dan ia harus beradaptasi secara fisik maupun mental untuk konsisten.


“Awal-awal itu tangan rasanya pegal-pegal banget, karena selama ini belum pernah olahraga angkat beban. Tetapi setelah berjalannya waktu saya mulai terbiasa dan menjadi bersemangat dalam latihan,” katanya.


Tantangan berikutnya adalah melawan rasa malas. Shaleh merasa beruntung karena berada di lingkungan yang terus memotivasinya agar tidak menyerah.


“Tantangan paling berat itu melawan kemalasan. Cara melawannya adalah dengan memotivasi diri sendiri bahwa saya bisa,” jelasnya.


Lima bulan berselang, Shaleh menjalani momen bersejarah: terbang ke Dubai untuk tampil di Asian Youth Para Games 2025. Ia turun di kelas -54 kilogram putra kategori rookie. Meski minim pengalaman, ia tampil percaya diri dan mampu mencatatkan angkatan terbaiknya, 85 kilogram, di Dubai Club for People of Determination.


“Saya terharu karena di pertandingan ini main dengan atlet-atlet Asia. Saya sempat berpikir ‘kok bisa ya meraih medali padahal baru berlatih lima bulan’. Dari awal saya tidak berekspektasi untuk dapat medali,” ungkapnya.


Angkatan tersebut mengantarkannya meraih medali perak. Shaleh mempersembahkan medali itu untuk keluarga, pelatih, NPC Indonesia, dan masyarakat Indonesia.


“Medali ini saya persembahkan kepada keluarga, tim pelatih, NPC Indonesia dan seluruh masyarakat Indonesia. Saya akan berlatih lebih giat lagi agar bisa meraih prestasi yang lebih tinggi lagi,” tegasnya.


Shaleh juga berharap suatu hari nanti bisa menyamai atau bahkan melampaui peraih medali emas kategori rookie, Bahriddin Kholbutaev dari Uzbekistan yang mencatatkan angkatan 105 kilogram.


“Insya Allah kalau latihannya penuh semangat, saya yakin bisa,” ucap Shaleh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X