SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM – Kota Semarang menjadi daerah dengan jumlah temuan kasus HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Jawa Tengah sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 620 kasus HIV/AIDS ditemukan di ibu kota Provinsi Jawa Tengah tersebut selama periode satu tahun.
Temuan tersebut menunjukkan tingginya upaya deteksi dan skrining yang dilakukan pemerintah daerah dalam menjangkau kelompok masyarakat yang berisiko maupun populasi umum.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, mengungkapkan bahwa kelompok dengan proporsi temuan kasus tertinggi berasal dari laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).
Menurut data Dinas Kesehatan Kota Semarang, kelompok tersebut menyumbang sekitar 44 persen dari total kasus HIV yang berhasil teridentifikasi.
Selain itu, kasus HIV juga ditemukan pada berbagai kelompok lainnya, antara lain Pasien Tuberkulosis (TBC): 12 persen, pasangan berisiko tinggi: 11 persen, populasi umum: 11 persen
pasien Infeksi Menular Seksual (IMS): 9 persen, pelanggan pekerja seks: 5 persen, dan wanita pekerja seks: 2 persen.
Distribusi kasus tersebut menunjukkan bahwa HIV dapat ditemukan pada berbagai kelompok masyarakat dan tidak terbatas pada satu kelompok tertentu.
Semarang Temukan 240 Kasus Baru pada Awal 2026
Abdul Hakam menjelaskan bahwa selama periode Januari hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan Kota Semarang telah menemukan sebanyak 240 kasus HIV baru.
Meski angka temuan kasus masih cukup tinggi, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan peningkatan laju penularan HIV di masyarakat.
Menurutnya, tingginya angka kasus yang ditemukan justru menjadi indikator bahwa layanan skrining dan deteksi dini semakin menjangkau masyarakat secara luas.
“Semakin banyak masyarakat yang berhasil dijangkau layanan pemeriksaan, maka semakin besar pula peluang kasus HIV yang sebelumnya tidak terdeteksi dapat ditemukan lebih awal,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Kota Semarang terus mendorong masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan HIV. Hakam menegaskan bahwa HIV saat ini dapat dikendalikan melalui pengobatan yang tepat dan dilakukan secara teratur.
Dengan deteksi dini, penderita dapat segera memperoleh terapi sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.
“Semakin banyak masyarakat yang melakukan tes HIV, maka semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan risiko penularan dapat dicegah,” katanya.
Pemerintah Kota Semarang terus memperkuat layanan skrining HIV sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit menular.
Pemeriksaan dini dinilai menjadi langkah penting untuk menemukan kasus yang selama ini belum terdeteksi dan memastikan pasien mendapatkan akses pengobatan sesegera mungkin.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan HIV, pentingnya pemeriksaan kesehatan, serta penghapusan stigma terhadap penderita HIV juga terus dilakukan.
Melalui deteksi dini, pengobatan yang berkelanjutan, dan peningkatan kesadaran masyarakat, pemerintah berharap angka penularan HIV dapat terus ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Kota Semarang.(ks01)