BANDUNG, KLIKSOLONEWS.COM - Institut Teknologi Bandung (ITB) mengecam dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sejumlah warga negara Indonesia dalam konferensi internasional ISPPD 2026.
Salah satu peserta yang diduga terlibat, Prihantini, diketahui membawa nama institusi ITB dalam presentasi ilmiahnya.
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Aep Patah, menegaskan bahwa kampus tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran etika akademik, termasuk plagiarisme, fabrikasi data, hingga manipulasi hasil penelitian.
“ITB tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi hasil, maupun bentuk pelanggaran etika ilmiah lainnya dalam kegiatan akademik dan penelitian,” ujar Aep Patah dikutip dari laman resmi ITB, Jumat (29/5/2026).
Aep menjelaskan, Prihantini merupakan alumni Program Magister Matematika FMIPA ITB angkatan 2020 dan telah menyelesaikan studinya pada 2022. Namun, materi yang dipresentasikan dalam konferensi internasional tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik selama berada di ITB.
Adapun tesis yang pernah dikerjakan Prihantini saat menempuh pendidikan magister berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring”.
ITB juga menegaskan tindakan yang dilakukan Prihantini merupakan tanggung jawab pribadi sebagai individu. Karena itu, institusi menyatakan menghormati apabila terdapat proses hukum terkait kasus tersebut.
“ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihantini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” kata Aep.
Kasus ini mencuat setelah ditemukan sejumlah kejanggalan pada data dan isi riset yang dipresentasikan di konferensi ISPPD 2026. Penelitian tersebut diduga menggunakan data palsu dan disebut dihasilkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Selain itu, format presentasi penelitian juga menuai sorotan. Gambar dan tulisan pada poster penelitian dinilai tidak memenuhi standar ilmiah konferensi internasional karena hanya dicetak menggunakan kertas ukuran A4, berbeda dengan format poster akademik pada umumnya.
Diduga Pernah Dilakukan Berulang
Dugaan praktik serupa disebut bukan kali pertama dilakukan oknum yang terlibat. Mereka diduga pernah mengikuti sejumlah konferensi internasional lainnya dan bahkan memperoleh penghargaan seperti outstanding research award serta hibah perjalanan atau travel grant.
Melalui skema tersebut, para peserta diduga bisa memperoleh pendanaan perjalanan ke luar negeri tanpa harus menggunakan biaya pribadi.
Kasus dugaan pemalsuan riset ini kini menjadi perhatian publik karena dinilai dapat merusak kredibilitas akademik Indonesia di mata internasional, terutama dalam forum ilmiah dan penelitian global.
Pakar akademik pun mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap integritas penelitian, termasuk penggunaan teknologi AI agar tidak disalahgunakan untuk memproduksi karya ilmiah palsu.(KS01)