nasional

Tiga Ambulans di Semarang Jadi Korban Orderan Fiktif, Diduga Ulah Debt Collector Pinjol

KS1
Kamis, 5 Februari 2026 | 14:00 WIB
Tiga Ambulans di Semarang Jadi Korban Orderan Fiktif, Diduga Ulah Debt Collector Pinjol. (KlikSoloNews/dok)

SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM  – Aksi dugaan orderan fiktif kembali meresahkan. Kali ini, tiga unit ambulans dan satu mobil pikap Lalamove dilaporkan menjadi korban pemesanan palsu di wilayah Kecamatan Semarang Barat, Jawa Tengah.

Kejadian tersebut terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial pada Kamis (5/2/2026).

Dalam video yang beredar, terlihat tiga ambulans terparkir berjejer di sepanjang jalan kawasan perumahan, bersama satu kendaraan pikap layanan pengiriman. Narasi dalam unggahan tersebut menyebutkan orderan palsu itu diduga dilakukan oleh oknum debt collector pinjaman online (pinjol).

“Sebuah video beredar terkait orderan fiktif yang dialami tiga unit ambulans dan satu mobil pick up Lalamove, diduga dilakukan oleh oknum kolektor pinjaman online,” tulis keterangan dalam video tersebut.

Salah satu pengelola Ambulans Antasena, Aldy (25), membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengatakan peristiwa itu terjadi pada Kamis siang sekitar pukul 13.00 WIB.

Menurut Aldy, pihaknya menerima panggilan telepon dari seseorang yang mengaku bernama Adi Prasetya, yang meminta layanan ambulans untuk mengantar pasien kontrol dari kawasan Jalan Puspowarno menuju Rumah Sakit Columbia Asia.

“Pemesan mengaku membutuhkan ambulans untuk antar pasien kontrol. Informasinya terdengar meyakinkan, sehingga kami langsung menindaklanjuti,” jelas Aldy.

Namun setelah ambulans tiba di lokasi yang dimaksud, tidak ditemukan pasien maupun pihak pemesan. Upaya menghubungi kembali nomor penelepon juga tidak membuahkan hasil.

Merugikan dan Ganggu Layanan Kemanusiaan

Aldy menyesalkan kejadian tersebut karena berdampak langsung pada pelayanan kemanusiaan. Menurutnya, ambulans seharusnya digunakan untuk kebutuhan darurat, bukan menjadi sasaran tindakan iseng atau penipuan.

“Ini sangat merugikan. Ambulans seharusnya siap untuk masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Kalau dipakai untuk orderan palsu seperti ini, bisa membahayakan nyawa orang lain,” ujarnya.

Ia berharap kejadian serupa tidak terulang dan masyarakat lebih bijak dalam menggunakan layanan darurat. Pihaknya juga membuka kemungkinan untuk melaporkan kejadian ini ke aparat berwenang apabila kembali terulang.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari kepolisian terkait dugaan keterlibatan debt collector pinjaman online dalam peristiwa tersebut. Namun, kasus ini menambah daftar panjang modus penipuan yang menyasar layanan publik dan kemanusiaan.(KS01)

Tags

Terkini