KARANGANYAR, KLIKSOLONEWS.COM — Peraih medali Paralimpiade, Fredy Setiawan, akhirnya meresmikan gedung bulutangkis impiannya, Setiawan Badminton Hall.
Fasilitas latihan baru yang terletak di Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, ini diharapkan menjadi pusat pembinaan para atlet bulutangkis disabilitas di Soloraya.
Gedung yang berdiri strategis di wilayah perbatasan Karanganyar–Solo itu dilengkapi tiga lapangan: dua berkarpet standar kompetisi dan satu lapangan khusus bagi atlet pengguna kursi roda.
Keberadaan lapangan khusus tersebut menjadikan Setiawan Badminton Hall sebagai salah satu fasilitas paling inklusif di Jawa Tengah untuk cabang para bulutangkis.
Fredy tidak menutupi bahwa perjalanan membangun GOR ini penuh liku. Ia mengingat masa-masa ketika kesulitan mencari tempat tambahan untuk berlatih karena hampir semua GOR di Solo selalu penuh.
“Dari tahun 2015 saya sudah memimpikan punya tempat latihan sendiri. Waktu itu rasanya tidak mungkin, tetapi saya tetap menyimpan keinginan itu,” kenangnya.
Dorongan terbesar muncul saat Prof Sapta Kunta Purnama, manajer para bulutangkis NPC Indonesia, membuka pintu GOR Fakultas Keolahragaan UNS untuk Fredy dan rekan-rekan pelatnas. Dukungan itu menjadi pemicu semangat Fredy untuk terus mengejar mimpinya.
Prestasi di panggung dunia, termasuk medali perak dan perunggu Paralimpiade Paris 2024 serta perunggu Paralimpiade Tokyo 2020, memperkuat keyakinannya bahwa sudah saatnya ia memiliki pusat latihan sendiri.
“Saya bersyukur ada banyak orang baik yang selalu memberi dukungan. Tanpa mereka, GOR ini tidak akan pernah berdiri,” ujarnya.
Apresiasi untuk Keteguhan Fredy
Prof Sapta Kunta Purnama, yang memahami perjalanan Fredy sejak remaja, menggambarkan Fredy sebagai sosok pekerja keras yang tidak pernah mudah menyerah.
“Saya tahu betul bagaimana ia berlatih dari kecil. Ketekunannya tidak pernah pudar. Fredy selalu punya kemauan kuat untuk berkembang,” tutur Prof Kunta.
Ia menilai kehadiran satu lapangan khusus kursi roda sebagai langkah visioner dalam pembinaan atlet disabilitas.
“Lapangan khusus seperti ini sangat jarang. Semoga GOR ini menjadi tempat lahirnya banyak atlet para bulutangkis baru,” tambahnya.
Ketua NPCI Jawa Tengah, Osrita Muslim, juga memberikan apresiasi atas dedikasi Fredy yang bukan hanya berprestasi, tetapi turut membangun ekosistem pembinaan atlet.
Ia mengingat kembali perjalanan Fredy sejak tampil di Popcanas 2007, kemudian melesat menjadi langganan juara di ASEAN Para Games hingga tampil mengharumkan Indonesia di panggung Paralimpiade.
“Fredy tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Ia juga memikirkan generasi penerus. Membangun GOR ini adalah bentuk komitmennya untuk pembinaan atlet muda,” ujar Osrita.
Dengan hadirnya Setiawan Badminton Hall, dunia para bulutangkis Indonesia mendapatkan suntikan energi baru.
Gedung ini bukan sekadar tempat latihan, tetapi simbol perjuangan, ketekunan, dan kepedulian seorang atlet untuk masa depan olahraga disabilitas di tanah air.(ks01)