PEKALONGAN, KLIKSOLONEWS.COM — Nasib nahas dialami Dwi Purwanto, warga Pekalongan, Jawa Tengah. Ia menjadi korban dugaan penipuan oleh sejumlah oknum aparat kepolisian setelah menyerahkan uang miliaran rupiah demi keinginan agar putranya bisa masuk Akademi Kepolisian (Akpol).
Dwi mengaku telah menyerahkan uang total Rp2,6 miliar kepada beberapa orang yang mengaku memiliki “jalur khusus” penerimaan taruna Akpol. Namun, setelah proses seleksi selesai, sang putra dinyatakan gagal dan Dwi baru menyadari telah menjadi korban penipuan.
“Saya tertipu. Uang sudah saya serahkan dengan harapan anak saya bisa diterima di Akpol. Tapi ternyata gagal dan pelaku menghilang,” ujar Dwi saat ditemui awak media, Kamis (24/10/2025).
Kasus ini bermula ketika Dwi diperkenalkan kepada beberapa orang yang mengaku mampu membantu kelulusan calon taruna melalui jalur khusus.
Para pelaku meyakinkan korban bahwa mereka memiliki akses langsung ke panitia seleksi Akpol dan meminta sejumlah uang secara bertahap hingga mencapai miliaran rupiah.
Namun, setelah pengumuman hasil seleksi, anak Dwi tidak lolos dan para pelaku mulai sulit dihubungi. Merasa ditipu, Dwi kemudian melaporkan kasus ini ke Polda Jawa Tengah dengan tuduhan penipuan dan penyalahgunaan jabatan.
Dua Oknum Polisi Ikut Dilaporkan
Dalam laporannya, Dwi menyebut terdapat dua anggota polisi aktif yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Keduanya yakni Aipda Fachrurohim alias Rohim, anggota Polsek Paninggaran, dan Bripka Alexander Undi Karisma atau Alex, anggota Polsek Doro di jajaran Polres Pekalongan.
Selain dua nama tersebut, Dwi juga menyebut adanya beberapa perantara sipil yang turut berperan dalam proses penipuan.
“Saya sudah melapor resmi ke Polda Jateng, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Saya berharap laporan ini ditangani secara serius,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Polda Jawa Tengah terkait proses hukum atas laporan Dwi Purwanto.
Korban berharap aparat kepolisian bertindak cepat agar kasus ini tidak menjadi preseden buruk bagi masyarakat yang ingin mengikuti seleksi Akpol secara resmi dan transparan.
“Saya hanya ingin keadilan. Jangan sampai orang lain tertipu dengan cara seperti ini lagi,” tegas Dwi.(KS01)