nasional

One Piece Berkibar Jelang HUT RI, Respons Istana: Ekspresi Anak Muda, Asal Tidak Menggeser Simbol Negara

KS1
Rabu, 6 Agustus 2025 | 13:45 WIB
One Piece Berkibar Jelang HUT RI, Respons Istana: Ekspresi Anak Muda, Asal Tidak Menggeser Simbol Negara. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi merespons fenomena pengibaran bendera One Piece yang marak terlihat di sejumlah daerah menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025.

Ia menegaskan bahwa selama hal tersebut merupakan bentuk ekspresi kreativitas kaum muda dan tidak dipertentangkan dengan bendera Merah Putih, maka tidak menjadi persoalan.

“Kalau berkenaan dengan bendera One Piece yang kaitannya dengan komunitas-komunitas, bagian dari ekspresi kreativitas, sekali lagi itu tidak ada masalah. Kalau sebagai bentuk ekspresi, it’s okay, nggak ada masalah,” ujar Prasetyo kepada awak media di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa 5 Agustus 2025.

Meski demikian, ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang membandingkan atau menyandingkan bendera fiksi tersebut dengan bendera Merah Putih, terutama di bulan yang sarat makna perjuangan.

“Tapi jangan ini dibawa atau dibentur-benturkan kepada, disandingkan, atau dipertentangkan dengan bendera Merah Putih. Nggak seharusnya seperti itu. Kita sebagai anak bangsa, bendera Merah Putih itu satu-satunya,” tegasnya.

Ia pun menyoroti pentingnya memahami konteks waktu dan tempat, mengingat bulan Agustus adalah bulan sakral bagi bangsa Indonesia.

“Ini bulan Agustus, bulan Kemerdekaan. Kemerdekaan kita itu diraih bukan hadiah, itu pengorbanan para pahlawan. Kita sebagai generasi muda ini tugasnya sekarang menjaga itu,” tambah Prasetyo.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi XIII DPR, Andreas Hugo Pareira, turut angkat suara. Ia menilai pengibaran bendera One Piece merupakan bagian dari kebebasan berekspresi, yang dijamin oleh konstitusi.

“Ini menjadi bagian dari hak asasi manusia (HAM), sebagai bentuk kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan kegelisahan masyarakat,” kata Andreas.

Ia juga menambahkan fenomena ini seharusnya menjadi refleksi bagi pemerintah, bukan justru ditekan.

“Seharusnya ini menjadi bahan introspeksi buat pemerintah, bahwa ada persoalan serius yang membuat masyarakat menyampaikan protes dalam 'diam', dalam bentuk sosial kultur,” ujarnya.

Fenomena ini menjadi cerminan dinamika ekspresi kaum muda dalam budaya populer dan ruang publik. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat menyikapinya secara bijak, dengan tetap menjaga semangat nasionalisme dan menghormati simbol negara.(KS01)

Tags

Terkini