nasional

Menyusul Jepang dan Korea, Indonesia Alami Penurunan Angka Kelahiran

KS1
Rabu, 30 Juli 2025 | 14:00 WIB
Menyusul Jepang dan Korea, Indonesia Alami Penurunan Angka Kelahiran. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Tren penurunan angka kelahiran yang selama ini menjadi persoalan serius di negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, kini mulai terlihat di Indonesia.


Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah kelahiran bayi secara nasional terus menurun, dengan Jakarta mencatat angka terendah di antara seluruh provinsi.


Secara total, angka fertilitas (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia telah mengalami penurunan tajam dalam lima dekade terakhir. Pada 1971, rata-rata perempuan Indonesia melahirkan 5,61 anak selama masa suburnya. Namun pada 2020, angka itu menyusut drastis menjadi 2,18.


Meski demikian, situasi Indonesia masih tergolong lebih baik dibanding beberapa negara tetangga di Asia Timur. Korea Selatan, misalnya, diperkirakan memiliki TFR hanya 0,68 pada 2024—angka yang menunjukkan potensi krisis demografi di masa depan.


Khusus DKI Jakarta, TFR tercatat berada di angka 1,75—terendah secara nasional. Ini berarti, rata-rata perempuan di ibu kota hanya memiliki kurang dari dua anak sepanjang hidupnya. Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate/CBR) di Jakarta pun rendah, yakni 13,94 kelahiran per 1.000 penduduk.


Sejumlah faktor turut memengaruhi rendahnya tingkat kelahiran di Jakarta. Salah satunya adalah pergeseran pandangan masyarakat terhadap konsep keluarga. Semakin banyak pasangan muda yang memilih menunda pernikahan atau menunda memiliki anak karena alasan biaya hidup yang tinggi.


“Biaya hidup di kota besar seperti Jakarta sangat besar, dari tempat tinggal, pendidikan, hingga kesehatan. Banyak pasangan yang memilih fokus karier dulu atau memiliki anak dalam jumlah sedikit saja,” ujar seorang pengamat demografi.


Selain faktor ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan reproduksi dan program keluarga berencana yang lebih merata juga memberi kontribusi. Dengan ketersediaan alat kontrasepsi yang mudah dijangkau, pasangan suami istri lebih leluasa dalam merencanakan jumlah dan jarak kelahiran anak.


Tren ini menunjukkan Indonesia tengah memasuki fase baru dalam dinamika demografi. Meskipun belum berada di ambang krisis populasi seperti yang dialami Korea Selatan atau Jepang, perhatian serius terhadap isu penurunan kelahiran perlu mulai diarahkan—khususnya di wilayah urban seperti Jakarta.(KS01)

Tags

Terkini