nasional

Tradisi Jembul Tulakan di Jepara Ricuh, Netizen: Sedekah Bumi Kok Malah Tawuran?

KS1
Rabu, 16 Juli 2025 | 14:30 WIB
Tradisi Jembul Tulakan di Jepara Ricuh, Netizen: Sedekah Bumi Kok Malah Tawuran? (KlikSoloNews/dok)

JEPARA, KLIKSOLONEWS.COM – Tradisi tahunan Jembul Tulakan yang seharusnya menjadi ajang syukur dan pelestarian budaya di Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, mendadak viral usai pelaksanaannya diwarnai kericuhan.

Momen yang seharusnya sakral itu justru berubah menjadi ajang saling dorong dan adu fisik antarwarga.

Tradisi ini digelar setiap Senin Pahing di bulan Apit (menurut penanggalan Jawa) sebagai bagian dari upacara adat sedekah bumi, sebuah bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan kelestarian alam yang diwariskan oleh para leluhur.

Namun dalam pelaksanaan tahun ini, suasana khidmat dan sakral tersebut justru tercoreng oleh aksi ricuh yang terekam dalam beberapa video dan beredar luas di media sosial.

Salah satu video yang diunggah akun Instagram @info.muria memperlihatkan momen memanas ketika sejumlah warga terlibat aksi saling dorong, lempar-lemparan, hingga baku hantam di tengah jalannya acara.

Insiden ini langsung menyita perhatian warganet dan menuai berbagai komentar bernada kecewa.

"Alhamdulillah akhirnya terjadi, judul sedekah bumi tapi yang ditampilkan jauh dari arti dan makna sedekah bumi yang diwariskan leluhur. Mending bubar aja sekalian kayak gini," tulis seorang netizen.

"Emang kudu rusuh gitu ya kak? Bikin jadi permusuhan nggak sih," tulis pengguna lainnya.

"Iki janjane sedekah opo yo, ngerti nek wargane sering tawur isone digawe acara mengkene. Opo ora ono cara liyane??" komentar dalam bahasa Jawa yang mempertanyakan pola pelaksanaan acara.

"Malah tawuran," tulis netizen lain singkat namun menohok.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah desa, panitia penyelenggara, maupun aparat setempat terkait kronologi kejadian ataupun langkah evaluasi atas insiden tersebut.

Banyak pihak menyayangkan kejadian ini, mengingat Jembul Tulakan sejatinya adalah warisan budaya yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan. Tradisi ini juga kerap menjadi daya tarik wisata budaya di wilayah pesisir Jepara.

Pemerhati budaya lokal menilai, kejadian ini harus menjadi momentum introspeksi agar tradisi yang luhur tidak tergerus ego massa.

Diperlukan pengawasan dan manajemen acara yang lebih baik di masa mendatang, termasuk pembatasan jumlah peserta, serta edukasi kepada masyarakat tentang nilai-nilai asli dari upacara adat sedekah bumi.

“Guyub rukun adalah semangat dari sedekah bumi. Kalau berubah jadi ajang keributan, maka kita kehilangan ruh budaya itu sendiri,” ungkap seorang tokoh adat setempat yang enggan disebutkan namanya.

Semoga ke depan, Jembul Tulakan bisa kembali ke makna aslinya: ungkapan syukur, bukan ajang tawuran.(ks01)

Tags

Terkini