nasional

Program SPMB Gubernur Ahmad Luthfi Serap 72.460 Siswa Miskin di Jateng

KS1
Sabtu, 12 Juli 2025 | 17:32 WIB
Program SPMB Gubernur Ahmad Luthfi Serpa 72.460 Siswa Miskin di Jateng. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)

SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM — Kebijakan intervensi pendidikan yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terbukti efektif menekan angka putus sekolah di wilayahnya.

Melalui skema Penerimaan Siswa Baru (SPMB) reguler dan kemitraan, sebanyak 72.460 siswa dari keluarga miskin berhasil terserap ke jenjang pendidikan SMA/SMK tahun ajaran 2025.

Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng mencatat, terdapat 77 ribu siswa afirmasi — yakni mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu — dalam database penerimaan.

Dari jumlah tersebut 70 ribu siswa diterima di SMA/SMK Negeri melalui jalur reguler, 1.913 siswa diterima lewat SPMB kemitraan swasta tahap pertama, dan 547 siswa terserap pada tahap kedua SPMB swasta.

Dengan demikian, total siswa miskin yang berhasil mengakses pendidikan menengah secara gratis mencapai 94,1 persen.

“Pemprov Jateng lakukan intervensi pada siswa yang berada di wilayah miskin ekstrem. Kualifikasi P1, P2, dan P3 berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial kita prioritaskan semuanya,” ujar Gubernur Ahmad Luthfi, Jumat 10 Juli 2025.

Namun begitu, ia mengakui bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar. Salah satunya adalah budaya kerja pasca-SMP yang masih melekat di sejumlah wilayah.

Untuk itu, Pemprov Jateng terus melakukan edukasi agar masyarakat memahami pentingnya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA/SMK, apalagi kini tersedia program sekolah gratis.

Kepala Disdikbud Jateng Sadimin menjelaskan, total kuota yang disediakan sekolah swasta kemitraan mencapai 5.004 kursi, namun baru 2.460 siswa yang terserap. Artinya, masih terdapat lebih dari 2.500 kursi kosong.

Bukan karena minimnya minat, namun faktor jarak tempuh menjadi kendala utama.

“Biasanya siswa miskin berasal dari daerah yang cukup jauh dari sekolah kemitraan. Maka secara logistik, biaya transportasi menjadi pertimbangan serius. Banyak yang akhirnya memilih sekolah swasta reguler di dekat rumah,” terang Sadimin.

Ia menambahkan, sekolah swasta kemitraan yang hanya mendapatkan sedikit siswa — bahkan ada yang 0 pendaftar — akan dievaluasi kembali efektivitasnya. Evaluasi dilakukan untuk menyempurnakan pelaksanaan program di tahun-tahun berikutnya.

Setelah tahap II SPMB kemitraan ini ditutup, hasil seleksi akan segera diumumkan. Siswa yang diterima wajib melakukan daftar ulang dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebelum proses pembelajaran resmi dimulai.(ks01)

Tags

Terkini