nasional

Dua Dekade Hidup di Tengah Rob, Warga Sayung Gantungkan Harapan pada Proyek Tanggul Laut

KS1
Rabu, 25 Juni 2025 | 14:15 WIB
Dua Dekade Hidup di Tengah Rob, Warga Sayung Gantungkan Harapan pada Proyek Tanggul Laut. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)

DEMAK, KLIKSOLONEWS.COM – Sudah lebih dari 20 tahun warga pesisir utara Jawa, khususnya di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, hidup berdampingan dengan air rob yang nyaris tak pernah surut.

Di tengah kondisi yang makin memprihatinkan, harapan mereka kini tertuju pada pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) yang tengah digarap pemerintah pusat.

Zamroni (50), warga Dukuh Pandansari, menjadi salah satu dari sekian banyak warga yang tak lagi asing dengan genangan air laut yang menerobos daratan.

Sejak tahun 2015, ia memilih meninggalkan rumahnya yang tergenang dan mendirikan warung kecil di lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Di situlah ia tinggal bersama istrinya hingga kini.

“Kalau ditanya tentang rob, kami sudah tak lagi kaget. Ini sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama lebih dari dua dekade,” tutur Zamroni, Selasa 24 Juni 2025.

Menurutnya, proyek tanggul laut adalah satu-satunya jalan keluar yang diyakini warga mampu memberikan solusi permanen atas bencana rob yang saban tahun kian parah.

Ia menyadari berbagai upaya sementara, seperti penyedotan air dan pengerukan sungai, hanya menyentuh permukaan persoalan.

“Selama ini kami terus berharap, semoga pengerjaannya tidak terhambat. Kami sudah terlalu lelah hidup seperti ini,” imbuhnya.

Kondisi lebih menyedihkan dialami oleh Sumaerah (70), tetangga Zamroni. Rumah papan miliknya kini hampir seluruhnya terendam air rob setinggi pinggang orang dewasa. Namun, bersama anak, menantu, dan dua cucunya, ia tetap bertahan di dalamnya.

“Dulu rob hanya naik saat pasang besar. Sekarang, air rob selalu ada. Mau keluar masuk rumah pun harus hati-hati lewat jembatan bambu,” ungkapnya lirih.

Sumaerah yang hidup dari penghasilan anak dan menantunya sebagai buruh harian, mengaku tak punya pilihan untuk pindah. Tawaran relokasi pernah datang, namun ia ragu dan takut dikenakan biaya.

“Katanya gratis, tapi siapa tahu nanti suruh bayar ini-itu. Untuk makan saja susah, bagaimana mau bangun rumah?” katanya dengan suara pelan.

Sejak suaminya meninggal tujuh tahun lalu, hidup nenek dua cucu itu makin berat. Ia kini mengandalkan uluran keluarga sembari berharap pemerintah memberi perhatian lebih, terutama untuk masa depan kedua cucunya yang masih kecil.

Selain pembangunan tanggul laut, warga seperti Zamroni juga menyoroti kebutuhan akan infrastruktur dasar, seperti jalan desa. Akses jalan yang baik sangat dibutuhkan warga untuk beraktivitas dan mencari nafkah.

“Setidaknya jalan menuju tempat kerja bisa dilalui dengan layak. Jangan sampai sudah hidup di rob, akses pun susah. Itu yang makin mempersulit kehidupan kami,” tegasnya.

Proyek tanggul laut yang kini terintegrasi dengan pembangunan Tol Semarang–Demak menjadi tumpuan besar masyarakat pesisir Sayung.

Mereka tak berharap banyak, hanya ingin hidup kembali di daratan yang kering dan aman, tanpa harus terus-menerus bertarung dengan air laut yang menenggelamkan kehidupan mereka sedikit demi sedikit.(KS01)

Tags

Terkini