Ahmad Luthfi mengungkapkan bahwa penurunan muka tanah di wilayah Pantura cukup signifikan, yakni mencapai 8–14 cm per tahun, diperparah dengan fenomena La Nina yang menyebabkan peningkatan debit air dan rob.
“Sudah bertahun-tahun masyarakat menghadapi ini. Kita kebut penyelesaiannya, bekerja sama dengan semua pihak, termasuk Kementerian PU,” ujarnya.
Salah satu titik krusial yang tengah ditangani adalah ruas Jalan Pantura di depan pabrik Polytron yang kerap tergenang. Meski sudah ditinggikan pada 2022, permukaan jalan kembali turun.
“Tinggikan lagi, turun lagi. Maka kita bahas normalisasi sungai pelayaran di sekitar titik itu sebagai solusi jangka pendek,” katanya.
Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menambahkan bahwa pemprov juga memprioritaskan kebutuhan dasar warga terdampak rob dan banjir, terutama air bersih. Upaya desalinasi dan pembangunan rumah apung sedang disiapkan di wilayah Sayung, Demak.
“Untuk masyarakat Sayung yang terdampak, kita siapkan desalinasi. Sebagian juga sudah mulai kita bahas penyediaan rumah apung,” jelasnya.
Dengan berbagai langkah konkret ini, Pemprov Jateng berharap persoalan banjir dan rob di pesisir utara Jawa Tengah dapat segera tertangani secara berkelanjutan.