nasional

Wilayah Pesisir dan Perbatasan Rentan Terhadap Penyusupan Narkoba

KS1
Selasa, 13 Mei 2025 | 12:01 WIB
Wilayah Pesisir dan Perbatasan Rentan Terhadap Penyusupan Narkoba. (Ilustrasi/KlikSoloNews-dok Mabes Polri)

PEKANBARU, KLIKSOLONEWS.COM — Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol. Marthinus Hukom, mengungkapkan bahwa wilayah pesisir dan perbatasan Indonesia merupakan titik yang sangat rentan terhadap penyelundupan narkoba.


Hal ini disampaikan Marthinus saat memberikan kuliah umum di Universitas Riau (UNRI), Pekanbaru, pada Rabu 7 Mei 2025.


Menurut Marthinus, Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dan memiliki garis pantai sepanjang hampir 100.000 km memberikan celah yang sangat potensial bagi sindikat narkoba internasional untuk melakukan penyelundupan.


"Kerentanan wilayah pesisir dan perbatasan terhadap narkoba salah satunya disebabkan adanya kesamaan kultur budaya lintas batas. Tidak seperti batas teritorial yang jelas, budaya menyatu tanpa garis imajiner," ujar Marthinus.


Lebih lanjut, Marthinus menjelaskan bahwa sindikat narkoba sering kali memanfaatkan pola hubungan sosial dalam masyarakat seperti patron-klien, simbiosis mutualisme, dan hubungan inti-cangkang untuk memperkuat jaringan mereka di wilayah-wilayah tersebut.


Keberadaan hubungan sosial ini memberi kesempatan bagi sindikat narkoba untuk beroperasi secara lebih tersembunyi dan lebih kuat di daerah perbatasan dan pesisir.


Marthinus juga mengajak sivitas akademika, khususnya mahasiswa, untuk berperan aktif dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).


Dia menyarankan mahasiswa untuk memanfaatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama dalam aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sebagai bentuk kontribusi mereka dalam memberantas narkoba.


"Mahasiswa bisa menjadi perpanjangan tangan BNN, turun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi dan solusi berdasarkan pendekatan ilmiah, terutama ilmu sosial," tegasnya.


Sebagai informasi, Marthinus juga menyampaikan data mengkhawatirkan terkait penyalahgunaan narkoba secara global, di mana lebih dari 296 juta orang di dunia terjerat narkoba. Di Indonesia, hasil survei tahun 2023 menunjukkan prevalensi pengguna narkoba mencapai 1,73 persen atau sekitar 3,3 juta orang.


Kuliah umum yang diadakan di Gedung Integrated Classroom Kampus UNRI ini diikuti oleh sekitar 250 mahasiswa dan dosen.


Mereka mendapatkan wawasan yang sangat penting mengenai dinamika penyalahgunaan narkoba dan berbagai strategi penanggulangan yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak buruk narkoba di Indonesia.


Dengan adanya paparan dari Kepala BNN, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan aksi nyata dari kalangan akademisi dalam mendukung upaya pemberantasan narkoba di Indonesia. (KS01)

Tags

Terkini