nasional

Insiden Pelemparan Bus Persik Kediri: Arema FC Kecewa Berat, Pertimbangkan Tak Lagi Main di Kanjuruhan

KS1
Selasa, 13 Mei 2025 | 08:00 WIB
Dilempari Oknum Suporter Seusai Laga Lawan Arema di Stadion Kanjuruhan, Kaca Bus Pemain Persik Kediri Hancur. (KlikSoloNews/dok)

MALANG, KLIKSOLONEWS.COM — Manajemen Arema FC meluapkan kekecewaan mendalam atas insiden pelemparan bus Persik Kediri yang terjadi usai laga Liga 1 2024/2025 di Stadion Kanjuruhan, Minggu 11 Mei 2025, malam.

General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan  klub tengah mempertimbangkan untuk tidak lagi bermain di Stadion Kanjuruhan dalam waktu dekat sebagai bentuk keprihatinan dan evaluasi menyeluruh.

“Kita kecewa dengan beberapa stakeholder pertandingan kemarin,” kata Yusrinal melalui pernyataan resmi klub dilansir laman resmi Arema FC, Senin 12 Mei 2025.

Menurutnya, manajemen telah berjuang selama tiga tahun penuh untuk mempertahankan eksistensi klub, terutama di tengah kondisi sulit saat tidak bisa bermain di kandang sendiri.

Ia menyebut berbagai tekanan, kritik, dan tuntutan berlebihan yang diterima klub saat kembali ke Malang justru membuat mereka merasa tidak dihargai.

“Kami terasa sudah berdarah-darah, sekuat daya dan upaya kami lakukan, namun hasilnya seakan-akan kita tidak dihormati di sini,” tegasnya.

Yusrinal juga mengingatkan suporter seharusnya menjadi pendukung utama tim, bukan pemberi tekanan semata. Ia mengeluhkan setelah tiga tahun tanpa dukungan langsung, Arema justru dihadapkan pada ekspektasi tinggi yang dianggap tidak realistis.

Tak hanya itu, ia turut menyoroti pihak keamanan yang dianggap belum mampu mengantisipasi insiden di luar area stadion (zona 4) — lokasi terjadinya pelemparan bus Persik Kediri.

“Laga kemarin itu level renpam high risk match, dan Arema FC sudah penuhi semuanya. Tapi insiden terjadi di luar stadion, di luar kewenangan panpel,” ungkapnya.

Dana Besar, tapi Tetap Disalahkan

Dalam pernyataannya, Yusrinal juga menjelaskan Arema FC telah mengeluarkan dana lebih dari Rp1 miliar untuk dua laga terakhir termasuk pertandingan kontra Persik, demi memenuhi standar pengamanan dan produksi pertandingan sesuai regulasi PSSI.

“Dari sisi produksi semua upgrading kita lakukan, dari ring 1 sampai ring 4. Tapi tetap saja manajemen yang selalu disalahkan,” keluhnya.

Manajemen Arema FC mendesak kepolisian segera menangkap pelaku pelemparan dan mengungkap motif di balik aksi tersebut.

Yusrinal menegaskan jika ada pihak yang kecewa dengan hasil pertandingan atau pelaksanaan laga, seharusnya disampaikan kepada manajemen, bukan dengan aksi kekerasan terhadap tim tamu.

“Polisi harus tangkap dan ungkap pelaku. Kalau kecewa karena Arema kalah, kenapa tidak ke kami saja?” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Yusrinal mengajak seluruh elemen sepak bola di Malang untuk melakukan introspeksi dan mengedepankan kerja sama. Ia menyatakan manajemen telah mengikuti berbagai forum komunikasi dengan stakeholder, namun tetap menjadi pihak yang paling disorot saat terjadi masalah.

“Ayo berpakta integritas, jangan semuanya salahkan manajemen. Introspeksilah,” pungkasnya.

Sebagai langkah lanjutan, Arema FC kini tengah mengevaluasi kemungkinan untuk tidak menggunakan Stadion Kanjuruhan sebagai kandang hingga situasi dianggap kondusif.

Hal ini tentu akan berdampak pada sisa musim Liga 1 2024/2025 dan menjadi perhatian serius bagi semua pihak.(KS01)

Tags

Terkini