nasional

Rupa Warna Wastra Nusantara: Jejak Kekayaan Kain Tradisional dari Sabang sampai Merauke

KS1
Sabtu, 10 Mei 2025 | 12:01 WIB
Rupa Warna Wastra Nusantara: Jejak Kekayaan Kain Tradisional dari Sabang sampai Merauke. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)

SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM — Provinsi Jawa Tengah kembali dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional dalam bidang kebudayaan dan kemuseuman.

Kali ini, melalui penyelenggaraan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara bertajuk "Rupa Warna Wastra Nusantara", yang berlangsung di Museum Ranggawarsita, Semarang, mulai 8 hingga 12 Mei 2025.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan yang telah menunjuk Jawa Tengah sebagai tuan rumah.

Dalam sambutannya di hadapan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, ia menekankan pentingnya kegiatan ini dalam memperkaya literasi budaya serta meningkatkan kunjungan masyarakat, terutama pelajar, ke museum.

“Menjadi tuan rumah ajang seperti ini memberi dampak positif. Kita akan terus mempercantik wajah museum dan menghadirkan inovasi agar tetap relevan dan menarik bagi generasi muda,” ungkap Taj Yasin saat pembukaan pameran, Jumat (9/5).

Menurutnya, kekayaan kain tradisional Indonesia tidak hanya terwakili oleh batik yang telah diakui sebagai Intangible Cultural Heritage oleh UNESCO sejak 2009. Masih banyak jenis wastra lain seperti lurik, tenun Troso, dan kain goyor yang juga memiliki nilai budaya tinggi dan berpotensi dipatenkan sebagai warisan nasional.

“Syukur-syukur kalau bisa mendapat paten sebagai milik negara kita,” ucapnya.

Wagub juga mengungkapkan bahwa di Jawa Tengah, penggunaan kain tradisional telah didorong melalui kebijakan.

Salah satunya adalah aturan mengenakan pakaian tradisional setiap hari Kamis, serta menggunakan bahasa Jawa dalam acara resmi, kecuali ada tamu dari luar provinsi. Bahkan pada hari Selasa, pegawai Pemprov juga diwajibkan mengenakan kain lurik.

Dukungan terhadap wastra juga diwujudkan dalam regulasi. Di Kabupaten Rembang misalnya, telah diterbitkan Perda yang mengatur bahwa batik Laseman wajib berbentuk batik tulis, bukan cap. Meski harganya relatif tinggi, batik tulis tetap diminati karena kualitas dan nilai seni yang tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sadimin, menjelaskan bahwa pameran kali ini diikuti oleh 36 museum dari berbagai wilayah Indonesia.

“Pameran ini merupakan wujud kolaborasi dan harmonisasi antar museum yang diharapkan memperkuat persatuan nasional melalui budaya,” ujarnya.

Dalam sambutan pembukaannya, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menegaskan pentingnya wastra sebagai identitas bangsa sekaligus potensi ekonomi.

Ia menyebut, hingga saat ini pemerintah telah menetapkan 2.213 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), dan akan menambah 500 WBTB dalam waktu dekat.

Dari jumlah itu, 16 unsur budaya Indonesia telah diakui UNESCO, termasuk batik, noken, dan kebaya sebagai wastra Nusantara.

“Ini modal budaya yang sangat besar, dan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi nasional,” kata Fadli Zon.

Pameran Rupa Warna Wastra Nusantara menjadi panggung yang mempertemukan warisan budaya dengan semangat modernisasi. Inovasi, pelestarian, dan apresiasi masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kekayaan kain tradisional Indonesia.(ks01)

Tags

Terkini