nasional

RI Bahas Impor Energi Tambahan dari AS, Bahlil: Masih Tahap Negosiasi

KS1
Sabtu, 3 Mei 2025 | 13:00 WIB
RI Bahas Impor Energi Tambahan dari AS, Bahlil: Masih Tahap Negosiasi. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Pemerintah Indonesia masih menunggu hasil negosiasi dengan Pemerintah Amerika Serikat terkait rencana peningkatan impor energi, termasuk LPG, minyak mentah, dan bahan bakar minyak (BBM) dari Negeri Paman Sam.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan belum ada keputusan final terkait rencana tersebut.

“Kami sampai sekarang belum melakukan eskalasi terhadap impor tambahan,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 2 Mei 2025.

Menurutnya, pelaksanaan peningkatan impor energi akan sangat bergantung pada hasil negosiasi yang kini sedang berjalan antara tim Indonesia dan perwakilan dari Pemerintah AS.

Bahlil menyebut dirinya juga telah berdiskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengenai hal ini.

“Sampai sekarang, tim negosiasi dengan Pemerintah Amerika masih berjalan. Belum ada keputusan yang pasti,” tambah Bahlil.

Rencana peningkatan impor ini menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dengan Amerika Serikat.

Meski Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia terhadap AS sebesar 14,5 miliar dolar AS, versi otoritas AS menyebutkan nilai surplus yang lebih tinggi. Untuk meredam potensi ketegangan dagang, pemerintah mengupayakan peningkatan pembelian energi dari AS.

Langkah konkret yang disiapkan antara lain:

  • Meningkatkan porsi impor LPG dari AS: dari 54 persen menjadi 65–80 persen.

  • Meningkatkan porsi impor minyak mentah (crude oil): dari kurang dari 4 persen menjadi lebih dari 40 persen.

  • Mengalihkan sumber impor BBM ke AS, dengan rincian teknis yang masih dibahas antara Kementerian ESDM dan PT Pertamina.


Bahlil menegaskan bahwa rencana ini bukanlah penambahan kuota impor energi nasional, melainkan pengalihan sumber pembelian yang selama ini berasal dari negara lain ke Amerika Serikat.

“Ini bukan penambahan kuota impor secara nasional, tapi hanya mengalihkan sumber pembelian dari negara lain ke Amerika,” ujar Bahlil dalam pernyataan sebelumnya di Kompleks Istana Kepresidenan, baru-baru ini.

Pemerintah menargetkan nilai impor komoditas energi dari AS dapat melampaui 10 miliar dolar AS jika kesepakatan berhasil tercapai. Hingga kini, proses negosiasi terus berlanjut dan diharapkan memberikan hasil yang saling menguntungkan bagi kedua negara.(ks01)

Tags

Terkini