nasional

Wagub Jateng: Isu Sampah Harus Dibahas hingga ke Tingkat Rumah Tangga

KS1
Sabtu, 26 April 2025 | 10:07 WIB
Wagub Jateng: Isu Sampah Harus Dibahas hingga ke Tingkat Rumah Tangga. (Ilustrasi/dok KlikSoloNews)

PEKALONGAN, KLIKSOLONEWS.COM – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan pentingnya penanganan sampah dilakukan secara menyeluruh, tak hanya di lingkup pemerintahan, namun juga menyentuh sendi kehidupan masyarakat hingga tingkat rumah tangga.

Pernyataan tersebut disampaikan Yasin saat membuka Musyawarah Komisariat Wilayah (Muskomwil) III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Korwil III di Kota Pekalongan, Kamis (24/4/2025).

Hadir dalam kesempatan itu, Wali Kota Surabaya yang juga Ketua Dewan Pengurus APEKSI, Eri Cahyadi.

Menurut Yasin, persoalan sampah saat ini telah menjadi isu darurat yang tak bisa hanya ditangani secara teknis, seperti pengangkutan dan pembuangan. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap persoalan lingkungan.

“Sampah ini sudah menjadi isu yang sangat darurat. Penanganan sampah bukan hanya soal memenej sampah, tapi bagaimana menerjemahkan isu lingkungan kepada masyarakat,” ujarnya.

Gus Yasin, sapaan akrabnya, mendorong agar isu pengelolaan sampah juga masuk ke ruang-ruang diskusi di keluarga. Ia menyebut, membangun kesadaran lingkungan harus dimulai dari lingkup terkecil.

“Bagaimana isu ini tidak hanya dibahas di pemerintahan, tapi juga bisa dibahas di rumah-rumah masyarakat kita,” lanjutnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pendekatan lintas isu, terutama antara sampah dan stunting. Keduanya, menurut Yasin, saling berkaitan erat dan memerlukan penanganan simultan.

“Rasanya dua permasalahan ini, antara stunting dan sampah, penanganannya harus berbarengan. Kalau sampah berserakan, stuntingnya juga naik. Jadi harus diselaraskan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Yasin mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan, selaku Ketua Komwil III, dalam merespons persoalan sampah di wilayahnya, termasuk dengan peningkatan anggaran penanganan sampah.

“Saya senang, beliau langsung tanggap. Anggarannya dinaikkan. Karena ini menyangkut komunikasi juga. Di perkotaan yang padat, pengelolaan sampah butuh lahan dan tempat, yang seringkali menghadapi resistensi dari masyarakat,” ujar Yasin.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mengurangi volume sampah dan mendorong edukasi tentang pemilahan kepada warga.

“Mari bareng-bareng kurangi sampahnya, bareng-bareng kelola sampahnya. Penanganannya bukan soal anggaran besar, tapi bagaimana kita efisienkan dan tekan volumenya,” tuturnya.

Sebagai contoh praktik baik, ia menyinggung keberhasilan Kota Surabaya yang mendapat pengakuan dari UNESCO atas pengelolaan sampah, serta Kabupaten Banyumas yang menggandeng industri untuk memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar.

“Ini bukan soal menonjolkan siapa, tapi membagi ilmu. Penting agar kota-kota lain bisa belajar dan menerapkan hal serupa. Edukasi masyarakat juga perlu digencarkan—dari pemilahan hingga proses akhirnya,” pungkasnya.

Muskomwil III APEKSI kali ini diikuti oleh 25 wali kota dari wilayah Jawa Tengah, DIY, Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Sejumlah narasumber dari Kemendagri, KLHK, serta pegiat lingkungan turut hadir berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan sampah perkotaan.(ks01)

Tags

Terkini