nasional

Alarm Perubahan Iklim: Jateng Terancam Rugi Triliunan, Pantura Paling Rentan

KS1
Rabu, 23 April 2025 | 11:36 WIB
Alarm Perubahan Iklim: Jateng Terancam Rugi Triliunan, Pantura Paling Rentan. (KlikSoloNews/dok)

SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM – Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen, memaparkan sejumlah kerentanan wilayahnya terhadap bencana alam yang semakin diperparah oleh perubahan iklim.

Dalam sambutannya saat membuka Konferensi U-Plan 2025 di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Selasa 22 April 2025, ia menyoroti kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah sebagai wilayah paling rawan terhadap bencana hidrometeorologi seperti rob, abrasi, dan banjir.

“Perubahan iklim tidak bisa kita hindari. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan adaptif,” ujar Taj Yasin di hadapan para peneliti dan mahasiswa, baik dari dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Provinsi Jawa Tengah diperkirakan mengalami potensi kerugian ekonomi hingga Rp14,90 triliun sepanjang 2020-2024 akibat dampak perubahan iklim.

Kerugian itu tersebar di berbagai sektor seperti kelautan (Rp29 miliar), pesisir (Rp893 miliar), air (Rp301 miliar), pertanian (Rp11,09 triliun), dan kesehatan (Rp2,59 triliun).

Salah satu program adaptasi yang mulai dijalankan Pemprov Jateng adalah proyek desalinasi—penyediaan air bersih dari air asin—bekerja sama dengan Universitas Diponegoro (Undip).

Proyek ini telah diterapkan di beberapa daerah Pantura seperti Pekalongan dan Demak, dengan harapan mampu mengurangi ketergantungan terhadap air tanah yang memicu penurunan tanah.

“Pertumbuhan industri di Pantura membutuhkan air dalam jumlah besar. Maka solusi desalinasi ini penting untuk menekan dampak lingkungan lebih lanjut,” jelasnya.

Taj Yasin juga mendorong para akademisi untuk memberikan masukan berupa ringkasan hasil konferensi, yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam kebijakan Pemprov Jateng terkait perubahan iklim ke depan.

Empat Klaster Strategi Penanggulangan

Untuk menghadapi tantangan iklim, Pemprov Jateng telah menyusun empat klaster strategi penanganan banjir dan bencana:

  • Adaptasi Kawasan dan Kewilayahan: Pemisahan zona basah dan kering serta strategi penghidupan adaptif.

  • Pengendalian Banjir: Pembangunan infrastruktur fisik dan sistemik untuk mengurangi daya rusak air.

  • Manajemen Sumber Daya Air: Penguatan konservasi daerah aliran sungai (DAS) dan struktur wilayah sungai.

  • Penguatan SDM dan Institusi: Melibatkan masyarakat dalam penurunan risiko bencana.


Pemprov Jateng juga telah menyusun dokumen penting seperti Perencanaan Rendah Karbon (2022) dan Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim (2023) yang kini tengah dalam proses penetapan sebagai Peraturan Gubernur.

Wilayah pesisir utara Jateng tetap menjadi fokus utama karena tingkat kerentanannya yang tinggi dibanding wilayah selatan dan tengah.

Sebagai bagian dari strategi tata ruang, Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah 2024–2044 juga memuat prinsip mitigasi perubahan iklim dan pelestarian kawasan lindung.

“Kami berharap semua langkah ini bisa menjadi fondasi yang kuat untuk mewujudkan Jawa Tengah yang tangguh terhadap bencana dan ramah lingkungan,” pungkas Taj Yasin.(ks01)

Tags

Terkini